Kemajuan Penerbangan Nasional

2 02 2010

Di bawah ini adalah beberapa cuplikan dari “Indonesia Digest” yang
terkait dengan kemajuan yang diperoleh Garuda serta Bandara-bandara di
Indonesia yang membanggakan secara nasional, dan perlu diketahui bersama
dalam kerangka sinergi pembangunan nasional.

Ya, saya kira belum banyak mengetahui perkembangan yang begitu cepat
dari Garuda yang bahkan ditolak mendarat di Eropa, dan kini mencapai
tingkat Four Star Catagory Airline, setingkat Air France, Lufthansa,
Emirates, Etihad Airways dan Turkish airlines.

Kemudian yang pertama di dunia adalah In-Flight Immigration on Garuda
starting 1 February 2010.

Dan yang luar biasa Bandara Soekarno-Hatta mencapai tingkat kedua di di
dunia dalam ketepatan waktu setelah Tokyo Haneda airport dan di atas
Narita bahkan. (Soekarno-Hatta international Airport world’s 2nd most
On-Time Airport)

Tetapi kebijakan yang patut ditiru dalam kerangka membuka 5 dari 27
Bandara Internasional Indonesia bagi ASEAN Open Sky, adalah bahwa
Indonesia meminta penundaan penandatanganan Akta ASEAN agar dapat
bebenah sehingga pesawat2 nasional dapat membawa 50% dari total turis
asing ke Indonesia.

Ketertinggalan Kebijakan Fasilitasi Telekomunikasi Dalam Pesawat Udara

Memang sebagaimana halnya pasar Telekomunikasi/ TIK, pasar pariwisata
nasional juga patut dikendalikan (sebagian besar diusahakan)
penyelenggara2 nasional.

Kaitan antara fasilitasi penumpang pesawat udara dengan akses
telekomunikasi/ TIK seperti Internet dan suara patut menjadi perhatian,
sehingga memberi kenyamanan bagi para penumpang.

Ada baiknya kebijakan dan keputusan untuk mengizinkan fasilitasi
telekomunikasi/ TIK yang memungkinkan penumpang dapat berkomunikasi lewat
Internet, SMS dan suara, dengan menggunakan pesawat genggamnya (Hp)
perlu dipercepat.

Padahal TELKOM dan INDOSAT sudah mempunyai Roaming Agreement dengan
AeroMobile misalnya sejak bulan Juli 2009 lalu, sehingga penumpang di
pesawat2 asing di luar wilayah Indonesia dapat berkomunikasi ke manapun
dan kapanpun ke seluruh terminal bergerak (mobile) maupun tetap (tetap)
di dunia. Namun sayangnya saat melewati wilayah Indonesia secara
otomatis akan terputus oleh karena Indonesia belum mengizinkan akses
tersebut. Padahal negara2 tetangga utama kita seperti Malaysia,
Philippines, Singapura dan Thailand telah mengizinkannya. Pasti para
penumpang akan mempunyai kesan tak baik terhadap Indonesia (bisa mulai
dari birokrasi, sentimen, dsb) saat misalnya terbang dari Kualalumpur
atau Singapura ke Australia melewati wilayah Indonesia. Dan bisa
dibayangkan selama beberapa jam tanpa akses komunikasi vital saat
melewati RI yang luas.

Kita patut angkat jempol terhadap Kejelian pandangan TELKOM dan INDOSAT
dalam memajukan jaringan dan layanan telekomunikasi nasional dan global
dalam persaingan bisnis telekomunikasi/ TIK yang sangat ketat, baik dalam
kualitas maupun dalam jangkauan. Kejelian pandangan ini, mengingat di
satu pihak bisa mencapai sasaran komunikasi “ke manapun dan kapanpun”
tercapai, kecuali di atas wilayah RI. Namun juga dengan menaati dan
menghormati batas-batas regulasi nasional yang ada, yaitu belum adanya
izin akses langsung antara pelanggan di pesawat udara dengan pelanggan
di Indonesia maupun negara2 lain, saat berada di atas wilayah NKRI.

Ya, ya, Indonesia bisa luar biasa hebat pada saat tertentu seperti
kemajuan di atas dan menjadi negara berkembang pertama dalam meluncurkan
satelit domestik/regional. Di pihak kalau sudah kehilangan sinergi
nasional dalam kerangka kerjasama antar instansi, dapat sangat
birokratis (alasannya bisa macam2 untuk menghindari dipesalahkan dsb)
sehingga berakibat sangat merugikan kepentingan nasional secara keseluruhan.

[Sebenarnya tak ada alasan menahan kebijakan izin bagi komunikasi
langsung pelanggan dari dan ke pesawat, dg berpegang pada tanggung jawab
negara asal pesawat sesuai Pasal 33 dari ICAO (International Civil
Aviation Organization) Convention maupun RR (Radio Regulation) Pasal 18,
serta pengujian keamanan di Eropa dan Arab Emirates, serta tak ada
masalah apapun dengan perangkat komunikasi ini yang sudah dijalankan
puluhan negara, termasuk negara2 yang mengelilingi kita di ASEAN dan
Australia. Bahkan Australia dan Malaysia sudah menggunakannya untuk
penerbangan domestik.]

Semoga kita bisa lebih cepat menyelesaikan tantangan2 kebijakan nasional
antar-instansi secara terpadu, dg sasaran dan cakrawala jauh ke depan.

Salam,
APhD

INDONESIA DIGEST
Published by: TBSC-Strategic Communication

* First in the World : In-Flight Immigration on Garuda starting 1
February 2010

Starting 1 February, Garuda Indonesia will introduce Visa-on-board on
its flights from Tokyo to Bali and Jakarta. Trial operations took place
in late January. The service will be provided in stages on Garuda
flights from other airports. Visa-on-board is the first of its kind in
the world.
<>The service is in response to complaints at the Visa-on-arrival
counters at Bali airport where passengers have to queue for hours to
receive their visas because of a shortage of Immigration staff,
especially during peak hours when a number of international flights
arrive at short intervals.

In this operation, passengers pay the US$25 visa fee at the bank counter
next to Garuda’s check in counter in Tokyo, receiving a receipt and
voucher for the application of their visa, while visas are processed on
board the flight by Indonesian Immigration officers. Upon arrival at
Bali’s airport, Immigration on the ground will merely check passports.

Earlier, Tourism and Culture Minister Jero Wacik told bisnis.com that
his office had coordinated meetings with the Minister of Justice and
Human Rights Patrialis Akbar, the National Minister for State-Owned
Enterprises Mustofa Abu Bakar, the Ministry of Transportation and the
Head of
the Airport operating authority Angkasa Pura, to speed up the issuance
of VoA especially in Bali and Jakarta.
“At Bali’s Ngurah Rai airport there are 26 counters, but only 10 are
staffed by immigration officers. Now the 26 counters will be all staffed
by immigration officers, especially during peak hours,” said Wacik.

Meanwhile, at the Soekarno-Hatta Airport in Jakarta there are 6
visa-on-arrival counters, a number that will now be increased to 12,
reported balidiscovery. com
Mid last year, the Ambassador of Japan to Indonesia, Kojiro Shiojiri,
had publicly expressed his concerns regarding visa-on-arrival service at
Bali’s airport. Many elderly Japanese tourists had complained that the
visa-on-arrival issuance process in Bali was taking two hours or more to
complete.

* Garuda Indonesia now Four Star Category Airline

Skytrax has raised Garuda Indonesia’s performance to a Four Star airline
category at par with 26 airlines that include Air France, Lufthansa,
Emirates, Etihad Airways and Turkish airlines, and recently joined
Hainan Airlines.
Skytrax CEO, Edward Plaisted said that Garuda’s performance rating is
based on assessments on the airline’s overall product and services on
board as well as at its base at the Jakarta’s Soekarno-Hatta airport.
During the past year Garuda has made huge transformations in quality,
improving its product and service standards, said Plaisted at the
certificate handing over ceremony held in Jakarta on 27 January.
The operation of the brand- new Airbus 330-300 fleet by Garuda Indonesia
has served as catalyst to raise the status of Garuda Indonesia to a Four
Star airline, said Plaisted.
Earlier in Mataram, Lombok, Garuda’s spokesman, Pujobroto told the press
that with the arrival of 23 new aircrafts, Garuda plans to open 10 new
routes domestically and internationally. The new aircrafts consist of 22
B737-800’s and one A330-200.

Among new routes planned are Bali-Brisbane, while from Lombok, Garuda
will operate Mataram-Jakarta- Kuala Lumpur. Domestically, starting 1
November last year Garuda launched the Mataram-Bali flights which to
date already enjoys a 70% – 80% load factor, said Pujobroto.
Another route will be Mataram-Jakarta.

Additionally, the Mataram-Singapore flights have been added from three
times to four times weekly frequency, reported Antara.
Pujobroto said this at the handing over of Garuda assistance to West
Nusatenggara Governor for the conservation of turtles at Gili Trawangan
amounting Rp. 700 million, environment protection assistance at Rp.
287.5 million and assistance for small and medium scale industries on
Lombok at Rp. 287.5 million.

Jakarta’s Soekarno-Hatta international Airport world’s 2nd most On-Time
Airport
Luxury travel news portal Forbestraveler. com announced that Jakara’s
Soekarno-Hatta International Airport is the second most on-time
international airport worldwide according to data from FlightStats, an
Oregon-based company that tracks flight information for airports and
airlines around the world, reported the Jakarta Post last 15 December
2009.

The portal ranked Soekarno-Hatta below reigning champion, Tokyo’s Haneda
Airport, and above Narita, which came in third.

The data defined an on-time airport as one having the most flights less
than 15 minutes late.

The same yardstick is used by the Geneva-based Airports Council
International.
The study, which included 50 of the busiest airports in the world, took
data from August 1, 2008, to July 31, 2009.

The portal’s report called Soekarno-Hatta this year’s most improved
airport on its top ten as it “jumped from last year’s sixth slot thanks
to impressive 84.2 percent on-time arrivals and 89.2 percent on-time
departures.” Arrival and departure flights were 79.3 percent and 86.3
percent on-time, respectively, last year.
Jakarta’s Soekarno-Hatta airport served 32 million passengers in 2008.
· Indonesia designates 5 airports in ASEAN Open Sky Policy

In compliance with the agreement made among ASEAN countries to further
open ASEAN skies, Indonesia plans to liberate 5 international airports
to ASEAN Open Sky to be signed at the ASEAN Summit meeting in Hanoi,
Vietnam in April 2010, said Air Communications Director General, Herry
Bakti S. Gumay, as reported by Bisnis Indonesia.

The expected 5 airports are (1): Jakarta’s Soekarno-Hatta airport, (2)
Bali’s Ngurah Rai, (3) Surabaya’s Juanda, (4) Makassar’s Hasanuddin
airport and (5) the new Kuala Namu aiport in North Sumatra.

Director General Herry Bakti said that the proposal has already taken
into consideration Indonesia’s own national long term interests. The
five airports are in fact already quite liberal in receiving foreign
airlines, except that they are as yet not legally declared so.
Indonesia has 27 international airports, or which the five will be
included in the list of airports in the ASEAN Open Sky policy to
commence in 2015.
Meanwhile, also, COO of Aero Inc, Chappy Hakim voiced his concern that
the government should first strengthen Indonesia’s own domestic and
regional management in air transport in order to create a stronger
platform for air liberalization.
Earlier, Transport Minister Freddy Numberi had said that Indonesia has
asked for a postponement of 6 months in signing the ASEAN Open Sky
agreement in order to first implement regulations stipulated in the new
Air Transportation Act no 1 of 2009.

Meanwhile, INACA (Indonesian Air Carriers Association) Secretary
General, Tengku Burhanuddin proposed that priority airports to be
included in the ASEAN Open Sky should be those that will boost tourism
to Indonesia. Airports should be opened in stages until Indonesian
national carriers are able to compete with foreign airlines. The
government should also include stipulations that foreign airlines should
carry at least 50% foreign passengers into Indonesia, this is
considering Indonesia’s potential huge outbound market and the fact that
among the ASEAN countries, Indonesia has the largest number of airports.





Opening The Gates to Mobile Money

2 02 2010

Mobile Money dan Mobile Banking merupakan memiliki masa depan yang baik bagi bisnis dan menjangkau daerah terpencil tanpa fasilitas bank.

Sangat menolong bagi UKM dan penduduk di pedesaan yang memiliki akses telepon genggam, ataupun yang tidak memiliki tetapi bisa melakukannya lewat teman atau tetangga yang memilikinya.

Bila ini dilaksanakan dengan baik dan terorganisasi (seperti di Bangladesh) maka selain akan menjangkau dan amat menolong rakyat kecil di pedesaan selain di kota, juga memberikan peluang bisnis yang lumayan.
Untuk itu memang perlu kerjasama antara Operator dan Bank secara harmonis. Dan saat ini memang sudah dirintis, namun membutuhkan penguatan2 dan dukungan regulasi (keuangan dan operasi telekomunikasi) yang lebih kondusif.

Manfaat bagi kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan ekonomi Negara akan besar. Oleh karena pengetahuan dan diskusi, seminar dan Tutorial mengenai Mobile Money dan Mobile Banking penting sekali, khususnya yang didukung
oleh IEEE Comsoc (Communication Society Indonesia Chapter)

Salam,
APhD





GLC webinar “Cloud Computing, 1 Februari 2010″

29 01 2010

Atas banyaknya permintaan untuk mengadakan webinar “cloud computing”, GLC berinisiatif untuk mengadakannya lagi. berikut ini detilnya:

Hari: Senin
Tanggal: 1 Februari 2010
Waktu: 19:00 Waktu Jakarta (GMT+7)
Lokasi: Internet
Biaya: free (gratis)

form pendaftaran:
https://spreadsheets.google.com/viewform?formkey=dHVUNU5uN1dqSkNsdlZkX1FWZ1BQUVE6MA

note:
Silahkan bergabung dengan group GLC di facebook: http://www.facebook.com/group.php?gid=255388515405
kritik, testimonial, saran, serta masukan anda dapat anda kirim langsung ke email info@glclearningcen ter.com <mailto:info@glclearningcenter.com>
Dengan menjadi member group, anda akan diberitahu setiap GLC mengadakan event.
Daftar training yang tersedia dapat diakses di: http://campus. glclearningcente r.com





Cara Dapatkan Emas di World of Warcraft

21 01 2010

World of Warcraft pemain tidak perlu resor untuk membeli emas ilegal untuk memperoleh mengisi pundi-pundi emas mereka dan membeli barang-barang yang mereka butuhkan untuk berhasil dalam permainan.

Blizzard’s massal multi-player Online Role Playing Game (MMORPG) World of Warcraft (WoW) menawarkan pemain kesempatan untuk menyesuaikan karakter mereka dalam cara yang hampir tak terbatas. Pemain yang telah bekerja untuk menggiling satu atau lebih karakter untuk saat ini tingkat maksimum 80 dan dapat bersaing dalam penggerebekan, arena, dan battlegrounds, dibutuhkan banyak emas untuk membeli bahan-bahan, pesona, dan item lainnya. Bahkan pemain biasa yang ingin memaksimalkan kemampuan profesi mereka perlu membeli bahan baku.

Sementara beberapa mata uang, seperti emblem, yang digunakan oleh masing-masing pemain untuk membeli item dari pemain non spesifik karakter (NPC) vendor, ekonomi pasar WoW emas terutama ekonomi. Pemain perlu emas untuk membeli bahan baku dari rumah lelang, membayar pemain lain untuk layanan profesi, dan bahkan memperbaiki peralatan mereka setelah serangan.

Pada tingkat 80, ada banyak cara untuk mendapatkan karakter sah emas untuk membiayai usaha mereka. Sementara banyak “penjual emas” penawaran untuk menjual pemain dalam game emas untuk kehidupan nyata tunai, transaksi ini melanggar persyaratan layanan WoW (ToS) dan dapat mengakibatkan penghentian account bagi pembeli dan penjual. Namun, ada banyak cara bagi para pemain untuk mendapatkan jumlah signifikan emas ketika beroperasi dalam aturan permainan. Beberapa metode ini meliputi:

* Memainkan rumah lelang pasar
* Leveraging mengumpulkan profesi
* Leveraging penciptaan profesi
* Harian quests

Dengan mencampur dan mencocokkan keterampilan masing-masing karakter, pemain bisa menghasilkan jumlah yang signifikan dari emas menggunakan metode yang sah.
Memainkan Pasar Lelang Rumah

Rumah lelang di WoW Sistim ini memungkinkan pemain untuk membeli dan menjual item di faksi mereka. Banyak pemain menggunakan rumah lelang untuk menjual barang-barang tambahan yang tidak mereka butuhkan, angkat perangkat tambahan potongan-potongan baju besi baru, mencari kerajinan resep, dan banyak lagi. Seperti kehidupan nyata pasar saham, pemain dapat mengambil keuntungan dari penawaran dan permintaan untuk membeli dengan harga rendah, menjual tinggi, dan membuat banyak uang dalam proses.





Lemahnya Eksekusi, Biang Kerok Kegagalan Bisnis

21 01 2010

(managementfile – Strategic) – Ketidakdisiplinan dalam melakukan eksekusi strategi bisnis ternyata yang menjadi biang kerok kegagalan dalam mencapai sebuah target usaha.

Penulis buku “Execution: The Dicipline of Getting Things Done” asal India, Ram Charan mengatakan, 70 persen penyebab kegagalan strategi yang utama disebabkan oleh lemahnya eksekusi.

Pernyataan Ram diperkuat oleh Board of Partners Dunamis Organization Services, Agi Rachmat, yang menegaskan bahwa lemahnya eksekusi menjadi tantangan perusahaan atau organisasi saat ini, termasuk di Indonesia.

Ia menyebutkan bahwa hampir semua bagian dalam sebuah perusahaan atau organisasi mampu membuat strategi yang, menurut dia, “sophisticated” untuk mencapai tujuan. Namun hasil akhirnya sering mengalami kegagalan.

Jelas jika berdasarkan pada analisa FranklinCovey, organisasi jasa pelatihan pengembangan kepemimpinan asal Amerika Serikat (AS), kegagalan mencapai target bukan karena salah strategi maupun perencanaan tetapi karena ketidakdisiplinan dalam mengeksekusi hal-hal yang telah ditetapkan sejak awal.

Untuk menghilangkan kebingungan mengenai apakah eksekusi itu, Agi menjelaskan bahwa eksekusi merupakan disiplin dalam mencapai hal yang dianggap penting.

Dalam sebuah perusahaan atau organisasi, seorang eksekutor lah yang berkewajiban mengawal strategi yang dibuat untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

“Artinya seorang pemimpin yang ingin target perusahaannya tercapai harus menjadi eksekutor yang mau `mengawal` strategi yang telah dibuat dan memastikan berhasil,” ujar Agi.

Karena itu, lanjut dia, seorang pemimpin tidak hanya hebat dalam membuat strategi tetapi juga wajib mampu melakukan eksekusi.

Beberapa hal yang sering kali menggagalkan eksekusi yakni tidak tahu tujuan yang ingin dicapai, tidak tahu bagaimana mencapai tujuan, tidak memiliki ukuran yang memantau progres pencapaian, dan tidak saling bertangung jawab.

Transparan pada karyawan

Peneliti dan pengajar di University of West Indies, Carribean, yang juga menjadi Eksekutif Direktur Pusat Penelitian Tingkat Lanjut FranklinCovey, Dean Collinwood mengatakan sering kali seorang karyawan tidak mengetahui apa yang hendak dicapai sebuah perusahaan.

“Coba tanyakan pada `office boy` soal target perusahaan kita tahun ini, coba tanyakan tukang kebun target kita tahun ini, pasti mereka tidak tahu,” ujar Collinwood.

Padahal untuk mencapai sebuah target semua karyawan harus mengetahui apa target kongkrit yang ingin dicapai, ucap dia.

“Bukan pimpinan yang akan mencapai target itu, tapi karyawan yang akan membantu dia mencapai target itu. Jadi karyawan perlu tahu berapa profit yang ingin dikejar perusahaan tahun ini,” tegas Collinwood.

Berkaca pada pengalaman sebuah BUMN tambang batubara Meksiko yang produksinya mencukupi 10 persen kebutuhan batubara di dalam negeri. Ia mengatakan di saat kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik meningkat, produksi BUMN tersebut justru turun drastis.

Collinwood menegaskan tidak ada transparansi dari perusahaan kepada karyawannya tentang target yang ingin dicapai, dan lebih parah lagi tidak ada transparansi tentang kondisi perusahaan saat itu.

“Sampai akhirnya manajemen membiarkan karyawan mengetahui kondisi perusahaan, dan mengetahui target perusahaan. Mereka (manajemen) menempelkan hasil capaian produksi perusahaan di dinding sebelum masuk ke dalam tambang, dan ini membangun motivasi pekerjanya,” ujar Collinwood.

Transparansi tersebut, menurut dia, tidak saja menular pada karyawan tetapi juga keluarga karyawan. Sehingga keluarga karyawan terbiasa membuat perencanaan, target, dan mengeksekusinya sendiri

“Hasilnya BUMN tambang batubara ini berhasil menaikan produksinya tiga kali lipat,” ujar dia.

Collinwood mengatakan pimpinan tertinggi BUMN itu turun tangan langsung memberikan pelatihan kepada karyawannya tentang cara melakukan eksekusi strategi target perusahaan.

“Bagi pimpinan memberikan pelatihan langsung ke karyawannya merupakan bentuk eksekusi strategi,” ujar dia.

Pahami inti bisnis

Menjalankan bisnis dengan sepenuh hati menurut Agi Rachmat merupakan hal paling penting. Dan jika kegagalan eksekusi berulang kali terjadi, Agi mengatakan sebuah pertanyaan perlu dilontarkan pada seorang pemimpin. “Pahamkah anda akan bisnis anda sendiri?”

Pertanyaan tersebut, menurut Agi, perlu dijawab oleh seorang pemimpin.

FranklinCovey yang telah mengembangkan pengukuran untuk mengukur seberapa baik suatu organisasi dan unit kerjanya dalam menyelesaikan atau mengeksekusi tujuan dan sasaran pentingnya dengan sukses melalui angka “execution quotient” (xQ).

FranklinCovey juga menetapkan angka indikator nol (buruk sekali), 1-40 (tidak bagus), 41-74 (sedang/medioker) , 75-99 (bagus), 100 (sempurna).

Dari ratusan perusahaan yang disurvei, Agi mengatakan 10 perusahaan dengan nilai tertinggi mendapat nilai indikator 78, yang berarti bagus.

Namun, berdasarkan suvei FranklinCovey di berbagai benua, nilai tertinggi 10 perusahaan tersebut belum mampu menyaingi perusahaan-perusaha an multinasional yang kini mampu “mengglobal”.

Survei di Asia Pasifik diperoleh nilai indikator tertinggi 84, di Amerika Serikat diperoleh angka tertinggi 85, sedangkan rata-rata global diperoleh angka 81.

Untuk itu, menurut Dean Collinwood, jika ingin menjadikan “great” perusahaan, dimana memperhatikan performa bukan sekedar profit, mendambakan loyalitas konsumen bukan sekedar kepuasan, menginginkan karyawan mencurahkan hati dan pikiran untuk perusahaan bukan sekedar keberadaan fisik di kantor, dan komitmen memberikan hal berharga untuk Indonesia bukan sekedar bisnis belaka, maka eksekusi strategi atau perencanaan menjadi hal yang wajib dijalankan.

Sumber : www.managementfile. com





Menjadikan Konsumen Sebagai Pemasar

21 01 2010

Apakah kegiatan pemasaran yang efektif harus dilakukan melalui iklan atau promosi ? Mungkinkah kita bisa melakukan pemasaran tanpa pemasaran? Dapatkah kita menjadikan konsumen sebagai pemasar kita? Itulah ide dasar Brand Hijack. Alex Wipperfurth, penulis buku Brand Hijack, Marketing without Marketing mendefinisikan brand hijack sebagai pengambilalihan merek oleh konsumen. Untuk menciptakan merek yang diambil alih, ada dua elemen penting yang diperlukan yaitu merek itu sendiri dan konsumen.

Peran Merek
Calon merek yang diambil alih harus menawarkan suatu terobosan baru serta menjadi bagian dari gaya hidup, asosiasi atau aktivitas, dimana pemain pertama biasanya akan menjadi trend setter. Merek yang diambil alih juga harus memiliki kualitas. Kualitas bukan berarti semata teknologi yang lebih baik, melainkan pengalaman yang lebih baik.

Konsumen juga bukan lagi sekedar target pasar, melainkan partner. Sementara merek biasa hanya memperhitungkan volume penjualan dan keuntungan semata, merek yang diambil alih mengorbankan volume dan keuntungan pada awalnya guna mendapatkan orang yang tepat untuk memiliki pengalaman terhadap produk tersebut. Sementara merek biasa ditujukan untuk semua orang, merek yang diambil alih memiliki sejumlah rintangan bagi orang untuk mendapatkannya sehingga konsumen akan lebih mencintainya. Salah satu contoh adalah para penggemar fanatik merek Louis Vuiton yang rela mengantri demi mendapatkan merek yang mereka cintai.

Peran Pemasar
Selanjutnya, elemen kedua adalah konsumen yang mengambil alih merek tersebut. Ada sekelompok konsumen yang sangat fanatik terhadap suatu merek. Ada konsumen Nike ataupun Harley yang rela menato tubuhnya dengan logo produk tersebut. Kelompok ini disebut brand tribe yaitu sekelompok orang yang memiliki ketertarikan terhadap merek tertentu serta menciptakan nilai sosial paralel dengan nilai pribadi, ritual, kosa kata dan hierarkinya. Dengan demikian, riset pasar bukan hanya untuk wawancara biasa, melainkan harus mencakup antropologi untuk mengerti sub-budaya, ritual serta budaya konsumsi. Komunitas merek ini merupakan tren sosial yang berkembang saat ini.

Mengubah konsumen dari pemakai biasa menjadi orang yang fanatik terhadap merek. merupakan suatu perjalanan. Konsumen tersebut awalnya hanya sebagai anggota. Tahapan berikutnya, konsumen mengalami brandwash. Setelah itu, anggota brand tribe tersebut membantunya menciptakan sosial paralel. Akhirnya, konsumen tersebut mengikuti semua program yang ditawarkan merek tersebut. Sang merek memprogram apa yang dipikirkan serta dilakukan anggotanya.

Perjalanan menuju merek yang diambil alih terdiri dari tiga fase:

Fase pertama adalah tribal marketing, yakni pelanggan awal (early market) mengembangkan produk mereka. Pelanggan awal juga merupakan promosi yang baik melalui ‘word of mouth’ sekaligus membentuk jaringan atau komuniti. Dengan demikian, memilih pasar awal yang baik, yang memiliki keahlian, waktu serta penghargaan terhadap merek merupakan hal yang kritis.

Fase kedua adalah ko-kreasi. Setelah pelanggan awal tersebut terbentuk, mereka akan mengambil alih pesan dari merek tersebut.

Pada fase berikutnya, pasar utama yang besar telah siap mengadopsinya. Pada tahap ini, yang harus dilakukan adalah menjaga momentumnya. Saat ini, fokus kita bukan lagi hanya apakah merek itu ataupun apa yang dilakukan merek itu, tetapi sudah menawarkan fungsi budaya, yakni apakah arti merek itu. Ide dasar yang hendak dikemukakan adalah: menjadikan konsumen sebagai pemasar, serta menjadikan merek kita sebagai budaya.

Sumber : www.managementfile. com





Pelajaran 3G untuk 4G dan UKM

11 01 2010

Khusus untuk Pemerintah/Regulato r dan Operator

Ya akhir2 ini kita memang dilibatkan dengan diskusi hangat mengenai pita lebar, khususnya mau dipakai untuk WiMAX 16d atau 16e kah.

http://telephonyonl ine.com/3g4g/ commentary/ applying- 3g-lte-0105/

Ulasan yang disampaikan dalam URL di atas adalah peringatan mengenai pengalaman telekomunikasi bergerak 3G di negara maju, yang digembar-gemborkan tetapi belum siap sehingga teknologi di bawahnya dipakai sementara pita lebarnya tak sepenuhnya terpakai. Tentunya dengan demikian jaringan tak digunakan optimal, dan investasi
yang ditanamkan tak optimal hasilnya.

Nah, disini diingatkan agar hal tsb tidak terulang dengan implementasi 4G, yaitu WiMAX 16m (bukan 16e) dan LTE.

Bagi Indonesia yang jaringan pita lebarnya untuk 3G saja belum bisa menampung kualitas 3G yang dipersyaratkan (baru setaraf GSM yang 2G), akan menghadapi masalah tambahan dibandingkan negara maju. Dan oleh karena itu cara penyelesaian suatu negara berkembang seperti Indonesia juga harus lebih jeli lagi, dan menjauhi hanya meniru teknologi yang sedang ramai ditawarkan. Sebaiknya kita tidak latah dan terlalu tergiur macam2 fasilitas kenikmatan yang ditawarkan suatu teknologi bisa diterapkan begitu saja.

Sebaiknya kita jangan berilusi untuk 4G bila jaringan dan kualitas untuk 3G belum terjangkau.
Sebaliknya bila jaringan 3G telah menjangkau pelanggan secara nasional dengan skala besar, pada saat 4G diperkenalkan maka pelanggan sudah siap, dan dengan demikian meringankan investasi bagi operator karena
pendapatan dari pelanggan 4G cukup banyak untuk menawarkan akses yang terjangkau.

Bagi Indonesia sebagai negara berkembang yang kualitasnya jaringannya yang baik masih sepotong-sepotong, masih angin-anginan, diperlukan keteguhan hati, persistensi, untuk menjangkau pemerataan jaringan nasional secepatnya. Proyek KPU (Kewajiban Pelayanan Universal) adalah sangat penting agar pelanggan tidak hanya di kota tetapi juga sampai ke desa yang menjadi basis produksi nasional kita. Tetapi itu tidak akan tercapai dengan baik kalau tidak didukung oleh pita lebar yang memungkinkan akses internet yang murah. Dan pita lebar tidak akan bisa masuk desa kalau Indonesia tidak segera menyelesaikan jaringan tulang punggung berkapasitas tak terbatas (ordo
ratusan Gbps hingga Tbps), yang benar-benar merupakan Ring, cincin, dari Barat sampai Timur (dan Timur sampai ke Barat) menjajar pulau-pulau, yaitu Ring Palapa.

Yang perlu dipertimbangkan khususnya oleh regulator dan operator adalah apakah jaringan dan teknologi terkait sudah bisa optimal apa tidak. Bila tidak, maka hanya menimbulkan kerugian dalam investasi bagi operator.
Dan dengan berkembangnya teknologi setiap 3-4 tahun, operator akan keteteran mengikutinya dan harus menysusutkan perangkatnya yang sudah terpasang dengan cepat.

Oleh karena itu wakil operator dalam milis2 harus ikut bicara sehingga pemerintah dan regulator tidak cicing wae (diam saja) mendengarkan masyarakat dan produsen perangkat berdebat dan memberikan iming-iming,
yang tentunya menginginkan barangnya dibeli. Dengan demikian akan ada perimbangan kepentingan dalam masukan ke pemerintah/regulato r. Contoh adalah bahwa walaupun terminalnya murah, belum tentu akan mengarah pada jaringan keseluruhan yang murah (yang akhirnya harus ditanggung pelanggan).

Lebih lanjut para eksekutif operator agar menempatkan kehadiran ke Study Group ITU-T dan ITU-R terkait, sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi perusahaan dalam meraih keunggulan masa depan.

Akhirnya saya menyarankan agar pemerintah/regulato r memberikan perhatian serius kepada UKM-UKM telekomunikasi/ IT kita, yang banyak diantaranya telah terbukti menghasilkan perangkat2 yang canggih dan memiliki nilai tambah tinggi dengan kemampuan R&D yang tidak kepalang dibina dari bawah (from scratch), bukan karbitan!
[Menurut saya hanya UKM-UKM yang bisa melawan kompetisi Cina saat ini
dan masa depan! Mengapa? Mereka lebih luwes, dan cepat dalam
mengadaptasi diri secara ekonomis].
Namun, kalau barang2 mereka tidak segera dibeli akan kehabisan nafas
ditengah jalan (sementara yang di Cina difasilitasi penuh pemerintah).
Yang lebih parah lagi adalah bahwa ahli-ahli peneliti mereka yang ideal
sekalipun, demi Nusa dan Bangsan dsb, tidak akan dapat bertahan terus
(keluarga mereka harus makan) dan akhirnya hijrah ke negara2 tetangga.
Sayang, bukan?!

Bagi UKM-UKM dan juga para operator yang akan membeli hasil IDN para
UKM, sangat penting memperoleh peta teknologi yang ditentukan
pemerintah/regulato r sehingga mereka yakin bahwa pemerintah/regulato r
tidak akan merubah-rubahnya untuk jangka waktu tertentu sampai
produksinya mencapai skala ekonomi.
Bila ini tidak dijamin maka para UKM akan terus berkutat dengan R&D
jangka pendek, yang tentunya nilai tambahnya terbatas, dan tidak akan
menjadi skala ekonomi, oleh karena para operator tidak yakin akan niat
pemerintah sehingga tidak akan membelinya.
Jadi memang diperlukan sinergi antara pemerintah/regulato r, IDN
khususnya UKM-UKM (sinergi antara para UKM sehingga ada pembagian
sasaran), dan operator.

Dukungan untuk UKM ini memang tidak bisa oleh satu Departemen, melainkan
memperoleh dukungan dari seluruh Kabinet, namun inisiatif bisa dimulai
dari Departemen mana saja, termasuk MenKominfo dan atau Menteri UKM,
Industri, BPPT, dsb.

Salam, APhD





Ikuti! nowGoogle SEO Challenge 15 Januari s/d 15 April 2010

5 01 2010

Segera! Kontes seo terbaru di awal 2010. Kombes.Com (The Indonesian Social Network) bekerjasama dengan nowGoogle.com (Multiple Search Engine) dalam waktu dekat akan mengadakan kontes seo dengan Nama kontes : nowGoogle SEO Challenge. Direncanakan kontes ini akan berlangsung tanggal 15 Januari 2010 s/d 15 April 2010.

Apa yang berbeda dengan kontes seo kali ini? Pemenang lebih banyak yaitu peringkat 1 s/d 20 dengan hadiah jutaan rupiah.

Siapa saja pesertanya? Seluruh blogger indonesia di persilakan ikut dan di undang untuk berpartisipasi mengikuti acara ini.

Bukan hanya sekedar kontes seo, tapi diharapkan sesama peserta kontes akan dapat menjalin persahabatan dan pertukarann ilmu seputar seo.

Tunggu informasi dan peraturan lomba resminya di : http://id.nowgoogle .com/event tanggal 15 januari 2010. Bagi teman – teman yang ingin membantu mempublikasikan acara ini, banner acara ini bisa di kopi di : http://id.nowgoogle .com/banner





Ini dia mahakarya anak Bangsa –>> InTouch Luncurkan Mobinity di ICT Expo 2009

10 12 2009

Masyarakat Indonesia terkenal sebagai pencinta gadget yang fanatik. Hal ini terlihat pada Nokia Communicator dimana Indonesia menjadi pasar dunia terbesar untuk gadget mewah ini. Disusul Blackberry (BB) yang menggantikan posisi Communicator. Bahkan kini, pasar menengah-bawah pun membuat kejutan dengan rela mengantri panjang untuk mendapatkan ponsel Qwerty asal China yang berbentuk seperti BB yang konon dalam beberapa bulan berhasil menempati posisi 2 besar di pasar ponsel Indonesia dan menyalip para pemain lama asal Korea dan Amerika yang sudah beroperasi bertahun-tahun di sini.

Kecintaan akan ponsel Qwerty oleh pasar menengah-bawah (Rp. 750.000-Rp. 1juta) ini disebabkan terutama karena bentuknya yang sepintas persis seperti BB dan fenomena jejaring sosial seperti Facebook, walaupun apa yang ditawarkan ponsel berbasis MTK ini sebenarnya tidak lebih sekedar solusi launcher untuk mengakses berbagai layanan melalui browser dengan kemampuan sangat terbatas.

Padahal sebenarnya, Indonesia pun mampu membuat sendiri solusi yang ditawarkan perusahaan luar negeri tersebut. Buktinya, PT InTouch Innovate Indonesia (www.get-intouch. com), anak perusahaan Skybee, telah mengembangkan aplikasi bernama Mobinity.net (mobile community network) yang merupakan aplikasi (client) jejaring sosial dengan kemampuan setara BB dan dilengkapi dengan APN (Access Point Name) khusus yang memungkinkan operator menyediakan paket data tak terbatas (unlimited) sehingga layanan dapat dinikmati oleh pengguna sepuasnya dengan harga mingguan atau bulanan tetap yang terjangkau.

Dengan Mobinity (www.mobinity. net), pengguna dapat menikmati berbagai layanan seperti MobiFriends (client untuk Facebook, Twitter, dan lain-lain), MobiChat untuk instant messaging, MobiGroups untuk akses Facebook Groups, MobiNews untuk akses full news (bukan RSS) yang lengkap dengan foto, serta fungsi-fungsi lainnya.

Yang menarik, masyarakat pecinta ponsel Qwerty murah kini tidak saja bisa mendapatkan BB (BentukBeken) dengan harga di bawah Rp. 1 juta, tapi juga dengan layanan BB (BenarBerguna) tanpa BB (BebanBerat) . Cukup Rp. 500/hari untuk layanan Mobinity sepuasnya.

Layanan Mobinity yang saat ini berjalan di platform Symbian S60 dan Java-MIDP-2 ini membidik pasar pengguna yang sudah ada maupun pengguna baru.

Kendro Hendra, CEO PT inTouch Innovate Indonesia mengatakan, “Kami telah menjalin kerjasama dengan semua operator GSM: 3, Axis, Indosat, Telkomsel dan XL yang akan membantu memasarkan layanan mobinity ke 100 jutaan pelanggan yang sudah ada.”

Untuk pengguna baru, lanjut Kendro, “Kami menjalin kerjasama dengan semua ponsel merk lokal utama untuk membenamkan / pre-install aplikasi dan APN Mobinity dalam ponsel sehingga pengguna dapat langsung menikmati layanan dengan cepat dan mudah.”

Mobinity sendiri akan diluncurkan bersamaan dengan event ICT Expo dan ICT Forum Indonesia 2009, tanggal 14 – 16 Desember 2009 di Jakarta Convention Center (JCC).

Mengomentari kehadiran aplikasi ini, Tifatul Sembiring, Menteri Komunikasi dan Informatika mengatakan, “Mobinity yang 100% dibuat anak bangsa dan berjalan di ponsel merk nasional serta dengan harga akses yang terjangkau ini akan meningkatkan demokratisasi terhadap informasi bangsa Indonesia.”

“Slogan made in, by, for Indonesia sangatlah tepat sebagai semangat bagi semua pelaku industri komunikasi dan informatika untuk meningkatkan industrinya tanpa melupakan masyarakat menengah bawah,” tambah menteri berlatar belakang pendidikan TI ini.

Sementara Soegiharto Santoso, Pimpinan Umum BISKOM yang menjadi media partner dalam ICT Expo dan ICT Forum Indonesia 2009 mengatakan, “Mobinity merupakan sebuah mahakarya yang dibuat di Indonesia, oleh putra-putri Indonesia, dan dirancang khusus dengan kebutuhan konsumen Indonesia. Oleh karenanya kami pun menggagas agar aplikasi ini bisa diluncurkan berbarengan dengan ICT Expo dan ICT Forum Indonesia 2009, agar kemunculannya bisa menjadi faktor penggerak bagi berkembangnya karya-karya inovasi lainnya.”

Indra Putra, Direktur PT Indobiz Connection, penyelenggara Expo dan ICT Forum Indonesia 2009 mengatakan, “Suatu kebanggaan bagi kami dimana acara yang mengedepankan aspek B to B dan B to G ini menjadi ajang yang tepat untuk meluncurkan Mobinity.net. Mengingat acara ini didukung sepenuhnya oleh pemerintah, kami berharap karya anak bangsa lainnya bisa berkembang dan digunakan di dalam negeri sendiri, agar investasi dan devisa negara tidak lari ke negara lain.”

Dalam acara peluncuran juga akan dilakukan penandatanganan piagram kerjasama antara inTouch sebagai pemilik dan pengelola Mobinity dengan semua operator GSM (3, Axis, Indosat, Telkomsel, XL), vendor ponsel merk nasional utama (D-One, G-Star, i-Mobile, IVIO, MITO, Ti-Phone, Venera) serta mitra konten Mobinity (Detik, Kaskus, Kompas, Republika, Seleb-TV, The JakartaPost, Biskom) diatas piagram merah-putih ukuran 8 meter dengan tulisan “Proudly made in Indonesia, by talented Indonesian, for united Indonesia”.

Terima kasih.

Salam,
Mr.Hoky / Soegiharto Santoso.
ATMCOM / MASTERDATA / NOTEBOOK88
BISKOM – Media Partner ICT EXPO 2009 & ICT FORUM 2009
www.biskom.web. id

From: Mr.Hoky / Soegiharto Santoso
Sent: Tuesday, December 01, 2009 12:40 AM
Subject: Insya Allah, Menkominfo akan membuka acara ICT Expo & ICT Forum 2009

Kepada seluruh rekan-rekan,

Mohon Doa Restunya dan Insya Allah, Menteri Komunikasi dan Informatika, Bapak Tifatul Sembiring akan membuka secara resmi acara ICT Expo Indonesia 2009 (www.ictindonesia. com/2009 ) dan ICT Forum Indonesia 2009 (www.ictindonesia. com/2009/ forum.htm) yang akan dilaksanakan pada tanggal 14 – 16 Desember 2009 di Jakarta Convention Center (JCC).

Setelah acara pembukaan tersebut akan dilanjutkan dengan peluncuran produk Mobinity dari InTouch yang bekerjasama dengan beberapa operator seluler diantaranya Telkomsel, Indosat, Excelcomindo, AXIS dan Three. (segera kami informasi tentang produk Mobinity)





Masih tentang WiMAX…..

17 11 2009

Sebenarnya kalau dirunut dari sejarahnya seperti di URL di bawah ini, maka WiMax 16 lebih diarahkan untuk alternatif DSL, dan bukan untuk memasuki ranah telekomunikasi bergerak.
http://en.wikipedia .org/wiki/ WiMAX
Ini dikenal dengan WiMax 16 – 2004, yaitu pada saat standar dibakukan
untuk 16d pada tahun 2004.

WiMax menghadapi WRC-2007
Cerita yang saya peroleh dari kalangan ITU dan menjelang WRC-2007, pada
saat pita frekuensi untuk IMT-2000 and beyond diperjuangkan, maka
produsen WiMax ingin agar WiMax sebagai wireless access bisa juga masuk
dan diakui sebagai IMT-2000 dst, sehingga mereka agak tergopoh-gopoh
menyiapkan standar untuk telekomunikasi bergerak. Dan keluarlah yang
disebut WiMax IEEE 16 – 2005 atau 16e. Dan oleh karena itu mereka terus
mengembangkan ke yang 16 m karena produk 16e agak tanggung, yaitu
semacam ABG (anak baru gede) untuk 4G, dan masih harus banyak
ditingkatkan untuk memberikan jaringan yang mulus bagi operator yang
harus menyesuaikan sehingga jaringan yang ada (2G/GSM dan 3G) tetap bisa
digunakan sampai habis umurnya. Jadi harus dilihat dari manfaat jaringan
keseluruhan (khususnya bagi operator), dan bukan hanya dari terminal
atau telepon genggamnya.

Walaupun tidak disebut dengan jelas tingkat teknologinya namun dalam
uraian di atas disebutkan bahwa:

Backhaul/access network applications

WiMAX is a possible replacement candidate for cellular phone
technologies such as GSM <http://en.wikipedia .org/wiki/ GSM>CDMA
<http://en.wikipedia .org/wiki/ Code_division_ multiple_ access>, or can
be used as an overlay to increase capacity. It has also been
considered as a wireless backhaul
<http://en.wikipedia .org/wiki/ Backhaul_ %28telecommunica tions%29>2G
<http://en.wikipedia .org/wiki/ 2G>, 3G
<http://en.wikipedia .org/wiki/ 3G>, and 4G
<http://en.wikipedia .org/wiki/ 4G> networks in both developed and
poor nations.[8] <http://en.wikipedia .org/wiki/ WiMAX#cite_ note-7>[9]
<http://en.wikipedia .org/wiki/ WiMAX#cite_ note-8>

Hak Hidup Setiap Usaha Telekomunikasi di RI
Memang semua perusahaan sah yang bergerak di dalam negeri, punya hak
hidup, dan diharapkan berusaha sesuai dengan kondisi dan kepentingan
nasional tentunya.
Dimana letak kepentingan nasional yang paling tinggi, apakah untuk
konsumen atau untuk produsen perangkat? Apakah misalnya setiap teknologi
harus dipakai? Jelas tidak, karena sebagai negara berkembang yang
terbatas kemampuannya harus memilah-milah teknologi agar modal para
operator (yang berdampak pada pelanggan) tidak hambur.

Lalu yang disebut kepentingan konsumen itu dimana?
Kepentingan konsumen, kepentingan rakyat, harus dilihat jauh ke depan
agar suatu saat Bangsa bisa mandiri dalam produksi perangkat dalam
negeri dengan nilai tambah sebesar-besarnya (tidak hanya sebagian kecil
dg assembling dsb), yang hanya bisa diperoleh dg pengembangan piranti
lunak dan dalam hal WiMax untuk chipset (chip bisa dibuat dan dipesan di
mana saja, karena harganya relatif kecil).

Setiap Negara Harus Menjunjung Standar demi IDN
Sekarang pertanyaannya mengapa kok mengembangkan standar 16d saja dan
tidak dibiarkan bebas saja memilih bebas?
Saya pernah mau menjual mobil Mercedes 230 E saya ketika mengakhiri
jabatan Direktur ITU di Jenewa (saya membeli dari pak Hasan Wirajuda
yang kebetulan mengakhiri tugas sebagai Minister Counselor di PTRI dan
menjadi Direktur Organisasi Internasional Deplu) ke seorang AS yang
katanya bisa membawanya ke negaranya. Eh, ternyata tak bisa diekspor ke
AS, karena standar di sana beda dengan yang di Eropa, misalnya tingginya
bumper, AC, perangkat keamanan, dsb. Ini suatu contoh bahwa suatu negara
tidak membiarkan berbagai merk masuk begitu saja.

Contoh lain adalah kalau pernah ke Swiss, harus membawa adapator listrik
segi enam yang beda dengan negara2 Eropa dan Indonesia. Mengapa? Oleh
karena Swiss tak ingin konektor2 listrik yang murah dari negara tetangga
atau lainnya masuk.
Demikian juga ketika anak salah seorang Deputy saya di BDT (Bureau for
Telecom Development) membeli motor di Perancis karena sangat murah,
ketika sampai di Jenewa sebelum dipakai motor tersebut harus diganti
dengan perangkat standar Swiss, dengan akibat harga total adalah sama
atau malah lebih mahal kalau dihitung segala kerugian waktu dll.

Jadi pak Wahyu, negara2 maju sekalipun tidak mengajari kita untuk bebas
menggunakan segala macam perangkat, loh, kok kita malah harus lebih
dermawan dari mereka?
Kalau kita mau rasional, minimal kita harus meniru apa yang dilakukan
negara maju untuk melindungi industri dalam negeri mereka.
Sudah tentu mereka mengakali kita dengan segala macam teori pasar bebas,
oleh karena mereka mau masuk pasar kita dan mereka lebih siap.

Titip pesan ke Teman-teman di Perdagangan dan DPR
Sesuai dg UU Telekomunikasi no.36/1999 maka bidang telekomunikasi adalah
bidang yang strategis, dan komoditi sebagaimana ditinjau hingga kini.
Oleh karena itu tidak bisa diperlakukan sama dengan layanan atau produk
lain kala mana dibahas di WTO, APEC dsb.
Oleh karena memiliki UU tersendiri maka tak bisa ditundukkan dengan UU
untuk Penanaman Modal yang makin memberikan peluang kepada investasi
asing begitu saja.

Agar diingat bahwa ketika Indonesia mau memasukkan modal 20% ke suatu
perusahaan satelit NGSO AS yang baru, walaupun menurut UU tidak
dilarang, tetapi ternyata FCC masih bisa ikut campur dan memerlukan
izinnya bila saham dengan suara (voting right) di atas 10%. Padahal ini
perushaan UKM saja.
Dalam hal di Indonesia pengawasan ganda seperti ini sulit dilakukan
karena sangat tergantung kebijakan para pemegang kekuasaan saat itu,
apalagi melihat lihaynya para negotiator asing menghadapi
pejabat-pejabat kita yang informasinya kurang.
Intinya, ya janganlah untuk bidang2 yang strategis negara kita ini
dijual habis, walaupun kita mengundang investor asing.

Kesimpulannya
Kita harus memberi kesempatan untuk mencari sesuap nasi kepada semua
usaha di NKRI ini dan mereka harus pintar-pintar menyesuaikan dengan
kepentingan nasional secara keseluruhan agar mereka berhasil secara
optimal dan tidak harus mengadu kepala dengan tembok.
Sebaiknya para ahli dan pendukung vendor-vendor asing ikut mencari
peluang jangka panjang yang mendukung IDN jangka panjang (berintikan
kekuatan R&D).

Namun kalau IDN yang kita dukung tidak becus, misalnya harga seenaknya
karena merasa dilindungi dsb, maka terpaksa harus membuka keran
teknologi yang lain. Oleh karena percuma memupuk IDN yang manja yang
tidak pernah akan ngentas dan bergantung pada fasilitas dan perlindungan
pemerintah sehingga operator dan konsumen menjadi korban (ini terjadi di
masa lalu dengan PT INTI).
Mereka juga harus jatuh bangun (jangan jatuh terus tak bisa bangun lagi)
untuk meraih keunggulan dalam negeri dan kemudian diuji di forum
internasional.

Salam,
APhD
PS. Saya teruskan ke milis lain agar suara pak Wahyu juga terekam ke
semua pemangku kepentingan industri telekomunikasi (layanan maupun
perangkat), baik swasta maupun pemerintah.

Subject: Re: [Fwd: [FKBWI] First Media Investasi WiMAX Rp 1 Triliun]
Date: Mon, 16 Nov 2009 09:01:15 -0000
From: Wahyu Haryadi <wahyu@bwa.web. id>
Reply-To: FKBWI@yahoogroups. com
To: FKBWI@yahoogroups. com

Pak Dji ysh,

Kita sama-sama mendukung IDN dan seharusnya tidak memihak kepada IDN
yang mengembangkan teknologi dengan standar tertentu. Lebih bijak untuk
membiarkan IDN atau vendor asing yang bermitra dengan perusahaan lokal
menentukan sendiri standar yang sesuai dengan keinginan pasar.

Pertanyaan saya jika ada IDN atau perusahaan lokal yang bermitra dengan
vendor asing dan telah mampu mengembangkan teknologi WiMAX 16e saat ini
di Indonesia, apakah Bapak akan tidak mendukung atau malah menentangnya ??

Sedikit koreksi Pak, sepengetahuan saya WiMAX 16e ini tidak
dikategorikan sebagai teknologi 4G tapi melainkan termasuk dalam
teknologi 3 (keluarga IMT 2000). Yang disepadankan dengan teknologi 4G
itu adalah WiMAX 16m dan LTE. Mohon dikoreksi oleh rekan-rekan yang lain
jika saya salah.

Salam, Wahyu