Home > Kata Teman > Menuju zaman emas indonesia

Menuju zaman emas indonesia

REORIENTASI STRATEGIS INDONESIA 2009
MENUJU ORDE TRANSFORMASI INDONESIA
Dalam “Membangun Peradaban Indonesia Baru”

Membaca tulisan Bapak Jakob Sumardjo – Esais, pada
Kompas Edisi Sabtu 12 April 2008 tentang Zaman Emas
Indonesia, hati saya trenyuh, terharu tidak dapat
diungkapkan dengan kata-kata. Saya bahkan membayangkan
dan meyakini hal ini bisa dilakukan bangsa ini seyakin
sang penulis. Hanya masalah waktu dan kesempatan yang
belum bisa dan berani dimanfaatkan para pendekar
negeri ini.

Kita sebenarnya bisa secepatnya mewujudkan mimpi ini,
dengan belajar dari kasus dan sejarah seorang
Soeharto. Seorang Soeharto semenjak berkuasa tidak
bisa digoyang dan dijatuhkan dengan beban melalui
tekanan-tekanan baik oleh kalangan intelektual maupun
dunia pergerakan, dengan berbagai macam gaya pun
Soeharto tetap tidak bisa goyah. Tapi seorang Soeharto
jatuh dan tersungkur hanya karena sebuah moment.
Sebuah moment kecil yang terbangun dari efek krisis
dari negeri seberang dan secara cepat, berdampak pada
kekuatan kekuasaan pada sendi-sendi kunci, pilar
penopang kejayaan seorang Soeharto. Itulah efek moment
yang dalam rumus fisika sangat sederhana, tapi kalau
terjadi di realitas kehidupan berdampak sangat luar
biasa dan dapat merubah tatanan yang sudah baku
sekalipun.

Di jaman Soeharto korupsi adalah sesuatu yang baku
seperti semacam Standar prosedur operasi, atau kalau
sekarang yang lagi trend adalah semacam code of
conduct-nya suatu badan atau lembaga demi pemenuhan
good corporate governance. Sehingga baik secara sadar
ataupun tidak, korupsi diapodsi, diterapkan, melembaga
dan membudaya bahkan sampai ke tingkat paling bawah di
tatanan masyarakat kita (setingkat lembaga RT/RW)
sehingga menghasilkan birokrasi yang sangat super
rapuh.

Salah satu ganjalan lain atau ranjau dalam negeri ini
adalah sindrom kemapanan. Merasa mapan dalam hal ini
seperti kondisi bahwa kita merasa telah demokratis,
merasa telah menegakkan HAM, merasa telah menegakkan
hukum, merasa telah memberantas korupsi, dan
merasa-merasa yang lain. Hal ini lah yang menyebabkan
bahwa seolah-olah negeri ini telah on the right track.
Kalau iya kenapa reformasi berjalan stagnant? Kita
telah sering terlena dalam sindrom kemapanan.

Padahal, memang negeri ini besar, kaya, banyak
pulaunya, luas wilayah dan lautnya, beraneka ragam
suku, ras dan agamanya. Sebagai sebuah organisasi,
negeri ini memang cenderung gemuk. Tapi hal ini justru
menyebabkan geraknya lamban dan kurang adaptif
terhadap perubahan. Kalau diibaratkan orang, lemak dan
kolesterol di tubuh semakin menumpuk sehingga semakin
rentan terhadap penyakit. Untuk itulah pentingnya kita
menjaga moment krisis. Moment dimana kita dihadapkan
pada pilihan hidup mati, pilihan melakukan Reformasi
Mei tahun 1998.

Negeri ini bisa diibaratkan seperti Gajah yang
bertubuh besar, sulit bergerak dan tidak lincah,
lamban merespon perubahan dan tidak efektif, serta
memiliki potensi konstruktif dan desktuktif yang sama
sangat besar sehingga bila terjadi salah kelola, salah
urus akan meninggalkan persoalan yang sangat sangat
besar pula.

Untuk itu Pemimpin masa depan kita harus memiliki visi
menjadikan Indonesia yang besar tanpa harus kehilangan
kelincahannya dan tidak diam ditempat. Pemimpin masa
depan kita harus menjadikan Indonesia yang terus
tumbuh dan berkembang, mampu beradaptasi di lingkungan
apapun, mampu terus berinovasi dengan melakukan
berbagai terobosan dan mampu mengokohkan Indonesia
sebagai pemain utama dunia dengan mempertimbangkan
resikonya secara hati-hati.

Pemimpin masa depan Indonesia harus mampu membangun
organisasi negara dan pemerintahan yang bisa lincah
bermanufer, gesit, dan terus tumbuh diberbagai situasi
dunia yang cenderung turbulen, meskipun cakupan dan
organisasinya terus tumbuh membesar seiring makin
maraknya pemekaran wilayah, pembentukan propinsi baru
sebagai manifestasi implementasi Otonomi Daerah. Jadi
Pemimpin Indonesia ke depan harus memiliki strategi
yang jelas.

Pemimpin Indonesia masa depan harus mampu menjadikan
Gajah yang besar ini bisa bergerak lincah, bermanufer
bahkan kalau perlu bisa membuat seekor Gajah yang
besar ini bersayap sehingga tidak sekedar lincah tapi
mampu meloncat-loncat gesit kesana kemari dan terbang
dengan enteng dan riang gembiranya dalam bermanufer.
Sayangnya saat ini, saya melihat negeri ini seperti
seekor Gajah Besar Duduk (seperti patung Ganesha
simbol ITB).

Sebagai seekor Gajah yang hobinya Duduk, Indonesia
enggan bermanufer, geraknya tidak lincah karena
ukurannya yang besar, kelihatan tampak melamban, tidak
inovatif dan kreatif. Sang Gajah yang tidak pandai
menari.

Kalau diibaratkan perusahaan, Indonesia sekarang
adalah sebuah negeri yang tidak disiplin menjaga
brandvaluenya, lebih mengandalkan pada program below
the line untuk mendongkrak citra dan kinerjanya. Telah
kehilangan kreativitas dengan menjalankan program
ikut-ikutan negara lain diberbagai aspek. Jurus
andalannya hanyalah jurus akuisisi (yaitu akusisi,
operating, sale). Aset-Aset negara pada awalnya memang
dikelola, tetapi begitu ada peluang dijual ke pihak
asing untuk menutupi defisit APBN.

Sebagai seorang lulusan engineer, saya berusaha
memahami dan menterjemahkan apa artinya semua itu.
Saya melihat bangsa ini perlu dibuatkan roadmap to the
next Indonesian Future. Bangsa ini perlu fokus. Bangsa
ini perlu Reorientasi Strategis, perlu Strategi baru
yang jelas. Bangsa ini perlu mereorganisasi ulang
struktur, distribusi kekuasaaan dan sistem kontrolnya.
Intinya bangsa ini harus di re-einginering.

Kepada calon presiden di 2009 kelak perlu ditanyakan
pertanyaan sederhana seperti How is our future going
to be? Bukan lagi, bersama siapa kita bisa, yang sudah
jelas pasti jawabannya seharusnya bersama rakyat kita
bisa!

Setelah kemerdekaan, bangsa ini telah mengalami
perubahan tiga zaman (Trilogi Orde) yang merubah
strategi, struktur, distribusi kekuasaan, sistem
kontrol, tatanan, patron, dan arah perjalanan bangsa
ini. Kita telah mengalami era Orde Lamanya Soekarno
yang kebablasan, Orde Barunya Soeharto yang keenakan
dan keterusan, Orde Reformasi yang tetap stagnant,
tertutup oleh pengalih perhatian, orde yang tidak
pernah menuntaskan persoalan karena semua tertunda
menunggu pergantian Presiden berikutnya. Substansi
masalah yang dituntut tidak pernah tuntas. Orde-orde
tersebut bisa dikatakan telah melahirkan pemimpin
Indonesia yang lahir dan dibutuhkan pada zamannya.
Pertama Pemimpin Orde lama. Presiden kita Bung Karno
adalah pemimpin yang flamboyan, dikenal memiliki
banyak istri, bisa dianalogikan sebagai ayam hutan,
yang liar tumbuh dan dibesarkan oleh perjuangan fisik
yang keras dan melelahkan bagi siapapun yang terlibat
pada masa itu. Apapun dikorbankan, tidak takut mati,
semua dihadapi dengan perwira, membusungkan dada
melawan dunia yang dirasa tidak adil atas kezaliman
penjajah kaum feodal terhadap dunia. Pilihannya pada
masa itu memang sedikit kecuali “Merdeka atau mati”.
Semuanya dilakukan demi kejayaan dan kemakmuran bangsa
dan negara Indonesia.

Kedua Pemimpin Orde baru. Bapak Pembangunan kita
Soeharto. The Smilin General, Jendral Besar Bintang
Lima. Jenderal yang suka tersenyum simpul. Pemimpin
kita ini, menurut ceritanya mulai dari awal
berkuasanya yang masih dianggap kontroversial dengan
Supersemarnya, melakukan pembangunan dengan kabinet
Pelita-nya, membungkam lawan-lawan politiknya, meredam
kampus-kampus dengan NKK/BKK, menertibkan masyarakat
dengan kopkamtibnya, sakit bahkan sampai wafatnya pun
dengan tersenyum. Semuanya dilakukan juga karena
tuntutan jaman, terlepas dari apapun ekses yang
ditimbulkan. Mungkin pada zaman itu butuh represif
untuk membangun. Hanya memang Orde Baru ini memang
keenakan, keterusan dan kelewatan. Kita ibaratkan
pemimpin orde ini sebagai ayam kampung, produk zaman
yang dididik dan ditempa perang mempertahankan
kemerdekaan dan revolusi. Namanya juga ayam kampung,
kadang-kadang jadi tidak pake aturan, menyalah
artikan, mencampur-aduk antara korupsi, kolusi dan
nepotisme dengan budaya gotong-royong, musyawarah
mufakat, bhineka tunggal ika, Pancasila yang merupakan
budaya luhur milik bangsa ini sehingga kalau diusutpun
menjadi susah saking kusut dan ruwetnya.

Ketiga adalah Orde Reformasi. Orde ini melahirkan tiga
Presiden, hasil dari Reformasi 98. sebenarnya Ketiga
presiden kita itu adalah korban rezim otoriter. Gus
Dur korban rezim dari kalangan santri yang hanya
dipakai kalau menjelang Pemilu, Megawati korban akibat
stigma Masa lalu Bung Karno yang dianggap condong ke
kiri, SBY korban akibat kebijakan Rezim dalam
peristiwa 27 Juli Kelabu. Kalau boleh diibaratkan
pemimpin yang lahir dari orde ini sebagai ayam olahan.
Gus Dur dibesarkan, diolah dan dididik di akar rumput,
kalangan the Silent Gold, Megawati ditempa dan diolah
dipergerakan politik, SBY ditempa, diolah dan
dipersiapkan di lingkungan Militer. SBY diibaratkan
ayam kurungan, ayam jago yang dikurung di kandang,
ditempatkan di bangsal militer, dididik, ditempa dan
dilatih untuk bertarung tapi tidak pernah bertarung di
medan yang sesungguhnya. Sehingga saat mengambil
keputusan cukup memakan waktu yang sangat lama, harus
merujuk sana sini, buka banyak buku pedoman, buka
banyak buku SOP, tanya kanan kiri, minta petunjuk
senior, melihat history; dan saat keputusan seharusnya
sudah dikeluarkan, semuanya menjadi basi.

Lalu dimana Habibie menempati Orde di bangsa ini?
Habibie menempati kelas tersendiri yaitu Advanced Orde
Baru, suatu orde ekses dari reformasi tapi bukan
bagian dari reformasi. Diibaratkan Habibie ini adalah
chicken nuget, produk bule atau dalam istilah kami
adalah ayam olahan, yang dibumbui disana sini, siap
dihidangkan untuk mengamankan ekses lengsernya orde
baru. Namanya juga ayam olahan, nyali pun hilang
sampai menjadi bulan-bulanan polemik Prabowo dan
Wiranto yang notabene anakbuahnya, sehingga untuk
tinggal pun harus pindah ke Jerman, hanya
sekali-sekali berkunjung untuk nyekar di tanah nenek
moyang Indonesia.

Semua Orde itu menghasilkan perubahan semu yang masih
hanya dinikmati segelintir orang dari 230 juta
penduduk Indonesia. Inilah negeri yang penuh dilematis
dan paradoksial.

Sekaranglah saatnya, kita manfaatkan moment menjelang
Pemilu 2009 ini untuk mencanangkan Orde Transformasi
Indonesia, yaitu suatu orde yang merestrukturisasi
seluruh tatanan kehidupan berbangsa kita. Orde yang
mere-engineering lagi pola-pola atau segala sesuatu
yang menyebabkan kenapa di negeri yang kaya raya ini
rakyatnya masih miskin. Orde yang menyempurnakan,
mengkoreksi, atau membuang hal-hal yang dianggap tidak
perlu dari orde lama, orde baru, dan orde reformasi
yang stagnant itu. Intinya bangsa ini harus melakukan
Reorientasi Strategis. Kita paksa calon pemimpin kita,
calon-calon presiden kita yang akan bertarung di
Pemilu 2009 nanti itu, untuk mengemban misi
“Reorientasi Strategis Indonesia 2009”, suatu misi
yang harus bisa dirumuskan, dipaparkan, dijabarkan,
diterjemahkan dan diaplikasikan untuk kesejahteraan
dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia, yang 230 juta
jiwa itu bukan cuma untuk segelintir bromocorah
oportunis sialan yang bergentayangan di sekitar pusat
kekuasaan negeri ini. Kalau tidak bisa, jangan pilih
dong!

Orde Transformasi adalah Ordenya kaum muda yang masih
fresh, segar, tidak menjadi bagian dari orde masa lalu
yang kelam, gelap dan meninggalkan banyak masalah bagi
negeri ini serta meninggalkan banyak sidik jari di
tempat-tempat kotor, kalau mau dideteksi secara
forensik.

Orde transformasi siap menjadi penerus pendiri negeri
ini, para pejuang kemerdekaan dan cita-cita
proklamator bung Karno, siap meneruskan pembangunan
yang pernah dianggap baik pada Era Orde Baru, siap
menyatukan bangsa yang seakan-akan terpecah di era
Presiden Gus Dur apapun etnis dan bhineka tunggal
ika-nya, siap cuci piring seperti yang dikeluhkan Ibu
Mantan Presiden Kita Megawati, siap menjaga keamanan
dan ketertiban serta mendamaikan berbagai konflik
peninggalan masa lalu, seperti yang dilakukan kabinet
Bersama kita bisa pak SBY.

Orde transformasi adalah orde yang bisa
mentrasformasikan ide-ide dan gagasan rakyat kecil
yang masif untuk diterjemahkan menjadi kebijakan
negara menjadi kebijakan yang menguntungkan,
memakmurkan dan mensejahterakan rakyat.
Orde transformasi adalah orde yang mampu
mentransformasikan para koruptor, para pembalak, para
pengemplang uang negara ke tiang gantungan kalau perlu
digantung di tugu Monas di depan Istana itu, bukan
sekedar entertain negara menjelang pemilu untuk
menghibur rakyat seperti sekarang.

Negeri ini butuh darah segar, butuh udara segar, butuh
dana segar, dan butuh pemimpin yang segar. Biarkan
yang sudah terjadi, berlalu tapi tetap kita teliti dan
cermati untuk ditindaklanjuti para team buser (buru
sergap) seperti KPK dan kita serahkan ke ahli sejarah
untuk mencatat dan mengingatkan serta untuk dituturkan
pada anak cucu kita ke depan menjadi bagian sejarah
masa lalu bangsa ini.

Sekaranglah saatnya kita berteriak sekeras-kerasnya
menyuarakan uneg-uneg rakyat. Salah tidak apa-apa
daripada benar tapi diam! Orang yang benar tapi diam,
hanyalah calon-calon koruptor yang menunggu giliran
begitu ada kesempatan.

Kita canangkan sekali lagi “Orde Transformasi
Indonesia” dengan mengemban misi “Reorientasi
Strategis Indonesia 2009” menuju visi “The Indonesian
Paradiso”. Yaitu menjadikan negeri Indonesia yang
tidak hanya bisa dan mampu memakmurkan dan
mensejahterakan rakyatnya saja tapi menjadikan
Indonesia sebagai negeri impian (Indonesian Dreams),
layaknya surga dunia bagi warga dan rakyat di negeri
ini. (bukan surga bagi para koruptor, pengemplang,
pembalak, dan para bromocorah lain seperti sekarang
ini).

Sekaranglah saatnya kita paksa calon-calon pemimpin
kita itu, untuk bisa menentukan dan memantapkan arah
dan cita-cita kita. Kita petakan lagi nusantara
tercinta kita. Kita petakan potensi-potensi,
keunggulan-keunggul an kita sekaligus
kelemahan-kelemahan kita. Kita petakan posisi kita
dalam peta persaingan dunia, demikian pula kita harus
sudah final dalam memetakan siapa musuh-musuh kita dan
siapa kawan-kawan kita. Barulah kita melangkah menuju
The Indonesian Paradiso (Indonesia Surga Dunia), bukan
sekedar jamrud katulistiwa yang dikeruk dan diamibilin
jamrudnya, setelah habis lalu ditinggalkan begitu saja
kebanjiran, kelongsoran, rakyatnya dekil, belepotan
lumpur, kelaparan, kurang gizi, berebut minyak goreng,
minyak tanah, gas, kedelai, beras, dan tetep miskin
kin. I have no a dream untuk yang seperti ini, tapi I
have a dream untuk The Indonesian Paradiso.

Untuk para calon Pemimpin kita itu perlu pula
diingatkan apa hikmah dan manfaat yang bisa dipetik
dari kejatuhan seorang Soeharto. Sebagai seorang
Muslim saya punya ilustrasi sederhana yang didapat
dari sebuah Haditz yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim yang mengingatkan bahwa Apabila seorang anak
Adam meninggal dunia maka putuslah semua amalnya
kecuali tiga perkara yaitu Amal Jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak yang sholeh.

Dalam konteks Soeharto, para calon kandidat Presiden
di Pemilu 2009 nanti seharusnya merenungkan terlebih
dahulu kaitan haditz ini dengan kejatuhan Soeharto.
Apa yang telah ditinggalkan oleh sang Pemimpin Orde
Baru itu?

Apakah Soeharto meninggalkan amal jariyah yang
bermanfaat untuk rakyat negeri ini? Kalau iya, kenapa
masih banyak rakyat miskin dan kenapa Beliau
dijatuhkan?

Apakah Soeharto meninggalkan ilmu yang bermanfaat
untuk negeri ini? Kalau iya, kok rapuh benar
sendi-sendi negeri ini setelah beliau lengser?

Apakah Seoharto meninggalkan anak-anak yang sholeh dan
sholehah? Kalau iya, kenapa… ? anda bisa menjawab,
melihat dan menilai sendiri dari berita-berita di
media negeri ini apakah anak-anak beliau termasuk yang
sholeh dan sholehah atau tidak?

Kalau semua itu jawabannya tidak, lalu apa yang
ditinggalkan dan diwariskan Soeharto untuk kemaslahan
negeri ini sebagai seorang pemimpin?

Sekali lagi saya punya ilustrasi rumusan sederhana
begini; Dalam pembangunan, kebaikan Soeharto
berbanding lurus melalui Repelita-nya, tetapi
kesalahan-kesalahan yang dilakukan Rezim dan para
kroninya, dilakukan secara eksponensial melalui
korupsi, kolusi dan nepotismenya. Suatu rumusan yang
sangat sangat super tidak pas dan balance, sehingga
outputnya adalah Reformasi Mei 1998 dengan Tap MPR No
11/1998. Realitas nyata dilapangan, rezim-nya tidak
dapat menahan krisis ekonomi tahun 1998.
Pengertian lainnya adalah seandainya saat itu tidak
direformasi (Mei 98) sekalipun, Soeharto akan
membutuhkan upaya yang super keras maha Akbar, untuk
mencapai titik kesetimbangan baru pada celah ruang
yang tersedia di negeri ini dalam waktu yang sangat
cepat untuk melengkapi kebaikan pembangunan Pelita-nya
yang berjalan smooth lurus itu, demi mengimbangi
kesalahan-kesalahan rezim dan kroninya yang berjalan
secara eksponensial untuk menghasilkan resultansi yang
maksimal secara eskponensial pula demi perwujudan nama
baik, bapak pembangunan Indonesia, pengemban
supersemar, tokoh serangan kilat dalam kisah janur
kuning 6 jam di Jogja dan tokoh pemberantasan Gerakan
30 September.

Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, karena Yang Maha
Tahu sudah memastikan seorang Soeharto tidak akan
mampu, diusianya yang senja, sudah ditinggalkan para
anak buahnya pula. Tangan Tuhan menghendaki tugas itu
untuk diteruskan oleh generasi muda yang lebih fresh
frow the oven, yang memiliki tenaga berlebih, ingatan
masih bersih dan tajam, nurani masih mengkilat, iman
masih penuh untuk memberantas para bromocah sialan
yang telah terbangun di negeri ini secara eksponensial
selama 32 tahun plus waktu pasca reformasi (dari 1998
– sekarang) yang stagnan ini, masih menancapkan
kuku-kukunya yang kotor. KPK juga akan berdarah-darah
kelelahan kehabisan energi, udara dan darah segarnya
kalau tidak didukung sistem negara yang kondusif serta
rakyat seluruh negeri ini.

Nah kalau sudah begini, hayoo coba renungkanlah siapa
tahu alumni ada yang mau mencalonkan diri? jangan
pertaruhkan negeri ini dipersimpangan jalan!!

Categories: Kata Teman Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: