Home > Kata Teman > BBM DAN IDEOLOGI KEKERASAN DI NEGERI MORAT-MARIT

BBM DAN IDEOLOGI KEKERASAN DI NEGERI MORAT-MARIT

Apa yang terjadi setelah BBM dinaikkan? Yang paling gampang
terlihat, karena sering menjadi berita di berbagai media, adalah
mengeluhnya pengemudi kendaraan umum dan penumpangnya. Salah satu
keluhan para pengemudi angkutan umum itu adalah dilema dalam
menaikkan tarifnya, karena kuatir penumpang berkurang. Jika tidak
mereka naikkan, maka penghasilan mereka yang sebelum BBM dinaikkan
sudah kurang dari layak akan semakin berkurang.

Misalnya di salah satu TV swasta, seorang pengemudi taxi
mengungkapkan, sekarang ia hanya bisa pulang ke rumah dengan
mengantongi uang maksimal RP20.000,- setiap harinya, padahal
sebelumnya bisa mencapai RP50.000,-. Dengan uang RP50.000 sehari
saja, saya sulit membayangkan betapa sulitnya kehidupan mereka
bersama keluarganya untuk bisa hidup layak, sehat dan apalagi untuk
membangun masadepan keluarga mereka yang kompetitif. Saya sulit
membayangkan bagaimana membiayai anak-anak mereka supaya tetap sehat
dan bagaimana membiayai pendidikan yang cukup supaya bisa bersaing
di masa depan nanti.

Itu sebabnya para pengemudi ini memiliki alasan yang tidak
terhindari untuk saling serobot, melanggar rambu lalu-lintas, tidak
perlu santun, dan lain-lain perilaku buruk di jalan. Demo sudah
mereka lakukan sejak hari pertama BBM dinaikkan. Beberapa demo
mereka sangat emosional. Tetapi akhirnya mereka menyadari demo tidak
bisa mereka teruskan karena mereka bukan pada posisi untuk dapat
berdemo, karena ketika mereka berdemo, mereka tidak menghasilkan
uang, padahal tabungan pun tidak punya juga. Betapa takdir hidup
mereka di tangan pemerintah, bukan di tangan Tuhan….

Apa pun yang terjadi, tarif angkutan umum akhirnya dinaikkan secara
resmi oleh pemerintah. Namun berapa pun kenaikan tarif angkutan umum
itu, apakah kenaikannya bisa mengatasi kesulitan hidup para
pengemudi itu? Tentu tidak, karena daya beli mereka sudah berkurang
karena kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok. Jadi kesulitan
hidup mereka tentu bertambah, sehingga yang paling gampang mereka
lakukan adalah tetap menjadi setan jalanan, bahkan dengan tingkat
yang lebih parah lagi agar uang yang mereka bawa pulang bertambah.
Polisi pun tetap berada dalam situasi yang gamang, antara
menertibkan dengan menegakkan hukum dan memanfaatkan situasi ini
untuk keuntungan sepihak. Situasi jalanan yang tanpa hukum ini,
tentu juga berpengaruh pada pengemudi kendaraan pribadi yang
akhirnya juga ikut-ikutan menjadi biadab. Maka, akhirnya jalan raya
kota-kota besar di Indonesia akan terus menjadi potret morat-
maritnya sebuah negeri. Siapa pun yang datang ke Indonesia akan
langsung menyaksikan kebiadaban para pengemudi kendaraan, baik yang
umum maupun pribadi. Sebuah situasi yang konyol dan memalukan.

Kritik saya di atas bukan tanpa tawaran solusi atau saran. Menurut
saya, sudah saatnya pemerintah memberikan tunjangan kepada para
pengemudi angkutan umum ini. Meski pun langkah ini sesaat dan
menyerderhanakan persoalan, tetapi itu lebih baik dibanding tidak
melakukan apa pun untuk mengurangi dampak kenaikan BBM pada sektor
transportasi umum di perkotaan. Tunjangan itu terutama diberikan
untuk pendidikan dan kesehatan. Mengapa? Supaya kesempatan mereka
untuk berubah nasib menjadi lebih besar. Jika orangtuanya hanya
pengemudi angkutan umum, maka berilah kesempatan pada anak-anaknya
untuk menjadi lebih baik dari itu, dengan memberikan mereka
kesehatan yang baik dan pendidikan yang cukup. Selebihnya orang tua
tetap memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap keluarganya.

Kemudian jika mau lebih jauh lagi menangani angkutan umum di kota-
kota besar, tentu harus juga memikirkan konsep yang lebih terpadu.
Misalnya di dalam konsep yang lebih terpadu itu diperhitungkan
penggunaan BBM secara efisien. Misalnya, jenis kendaraan yang
digunakan dalam transportasi umum. Jika menggunakan kendaraan tipe
kecil dengan kapasitas 10 atau 12 orang (seperti angkot atau
mikrolet) tentu harus dipertimbangkan karena lebih boros BBM
dibandingkan kendaraan dengan kapasitas lebih besar (seperti type
Isuzu Elf). Dengan kendaraan yang kapasitasnya lebih besar ini tentu
juga bisa sekaligus mengurangi jumlah kendaraan umum yang berada di
jalanan, sehingga jumlah kendaraan umum yang harus berlomba-lomba
mendapatkan penumpang pun berkurang. Berkurangnya jumlah kendaraan
umum ini bisa mengurangi kesemrawutan lalu-lintas dan tentu
mengurangi penyebab gangguan jiwa atau gangguan prilaku bagi rakyat,
bahkan mungkin juga bisa mendorong rakyat di lapis bawah untuk tidak
mudah tertarik pada ideologi kekerasan.

Apa yang saya tulis di atas hanya contoh saja dari berbagai
persoalan hidup di tingkat bawah yang tidak kunjung dicarikan jalan
keluarnya sejak dulu hingga sekarang. Padahal persoalan hidup yang
meracuni nurani ini bisa menjerumuskan orang untuk mengidap ideologi
kekerasan.

Perasaan tidak diperlakukan dengan adil tidak hanya dirasakan oleh
pengemudi angkutan umum, tetapi di berbagai sektor. Misalnya pekerja
di sektor industri juga paling rentan terhadap ideologi kekerasan.
Terutama karena pengusaha sekarang diberi “kehormatan”
dan “kemuliaan” yang amat tinggi untuk memberangus masa depan para
pekerja Indonesia agar tetap menjadi “kuli kontrak” sejak tahun
pertama bekerja hingga tua-renta karena memikul hidup yang berat.
Mereka adalah orang-orang yang kurang memiliki kesempatan untuk
menambah skill kerjanya dan pendidikannya, namun sayang pemerintah
memperlakukan mereka dengan tidak adil. Mereka telah diberi “takdir”
untuk selama-lamanya menjadi “budak” yang angka penghasilannya hanya
ditentukan oleh pemerintah dan pengusaha melalui apa yang
disebut “upah minimum” setiap beberapa tahun sekali saja.

Belum lagi persoalan-persoalan masyarakat miskin kota yang salah
satu pembelanya adalah Wardah Hafidz. Persoalan mereka misalnya,
ketika pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja atau
berpenghasilan, mereka menciptakan usaha kaki-lima untuk memiliki
penghasilan. Tapi sayang usaha kaki-lima ini begitu mudah dipandang
oleh pemerintah sebagai musuh negara yang pantas diburu dan
dimusnahkan dari pemandangan kota-kota besar. Mereka yang bukan
karena pilihan bebasnya telah menjadi pengusaha kaki-lima itu tidak
diberikan pilihan lain atau solusi jika mereka tidak boleh menjadi
pengusaha kaki-lima. Barangkali pemerintah memang bermaksud untuk
menjebak mereka untuk menjadi pencoleng atau penjahat. Atau
menjerumuskan mereka ke dalam kelompok yang menyebarkan atau menanam
ideologi kekerasan.

Jika persoalan-persoalan kelas bawah seperti itu bisa diminimalkan,
tentu kita bisa lebih giat berdoa atau berharap, agar masyarakat
bawah tidak mudah tertarik pada para penyebar ideologi kekerasan
yang ditawarkan individu, kelompok, organisasi, atau aliran agama
apa pun. Meniti kehidupan yang lebih baik atau membangun masa depan
yang lebih baik tentu lebih menarik dibandingkan masuk ke dalam
kumpulan orang-orang yang di dalamnya diajarkan kebenaran mutlak
hanya miliknya sendiri. Sayangnya kelompok seperti ini sering
berlatarbelakang agama.

Kepercayaan kepada Tuhan atau agama sebelum datangnya para nabi
yang “samawi” menurut ilmu psikologi dan sosiologi tumbuh karena
ketidakmampuan manusia memecahkan misteri kehidupan ini atau misteri
munculnya kehidupan ini dan kemana kehidupan ini berakhir. Pemahaman
tentang Tuhan dan agama kemudian terus berkembang lebih jauh menjadi
jawaban bagi persoalan bertahan hidup hingga menjadi arah
perkembangan peradaban manusia. Agama, bahkan menurut sains, amat
dibutuhkan umat manusia. Betapa banyak sekali arah peradaban manusia
terinspirasi dari agama. Begitu juga banyak aturan hidup sehari-hari
atau aturan hidup bernegara yang berasal atau terinspirasi dari
ajaran agama, termasuk larangan untuk melakukan pemaksaan kehendak
dengan kekerasan. Bahkan secara individual, kepercayaan kepada Tuhan
memberi kepuasan bathin tiada terkira bagi para pencari kebenaran
tentang hidup.

Sayangnya sebagian dari kita telah menjadikan pemahaman terhadap
agamanya atau keyakinannya sebagai kebenaran mutlak. Dunia ini
dianggap hanya bisa menjadi lebih baik jika semua orang memiliki
keyakinan atau agama yang sama. Orang-orang yang tidak mengikuti
mereka atau menghalangi akan dianggap kafir atau musuh yang pantas
dilenyapkan. Persoalan berkeyakinan seperti ini sudah muncul sejak
ribuan tahun lalu, sejak pertama kali manusia mulai mempercayai
adanya pencipta, penguasa, dan pengatur kehidupan manusia atau alam
semesta. Persoalan ini juga dialami oleh pengikut agama apa pun, di
Eropa, Arab, Afrika, Asia atau di mana saja. Tanpa bermaksud menjadi
pesimistis terhadap perkembangan peradaban manusia, sejarah umat
manusia sebenarnya di berbagai tempat di permukaan Bumi penuh dengan
pertumpahan darah beratasnama agama.

Ada pertanyaan besar yang sudah sejak lama ditanyakan banyak orang,
yaitu (jika begitu) apakah agama mengajarkan kekerasan? Tentu saya
tidak mau menjawab pertanyaan itu, karena memancing diskusi panjang
dan sekaligus memprovokasi adanya kekerasan terhadap diskusi itu.
Tulisan ini hanya mencoba mengindentifikasi atau menggambarkan apa-
apa yang di luar agama tetapi bisa memicu kekerasan di sekitar kita
dengan beratasnama agama.

Namun tulisan ini, akhirnya terpaksa menyinggung sebuah persoalan
yang sedang menjadi “hantu perpecahan” di Indonesia akhir-akhir ini
dan persoalan ini muncul karena situasi morat-marit yang saya
gambarkan di atas. Front Pembela Islam (FPI) disebut telah melakukan
kekerasan sepanjang keberadaannya selama 10 tahun terakhir ini dan
terutama kekerasan di Monas.

Apakah FPI harus dibubarkan? Begitulah wacana ini menjejali seluruh
media akhir-akhir ini. Tentu pembubaran FPI tidak menyelesaikan akar
persoalan sebenarnya sebagaimana sudah saya gambarkan di atas. Akar
persoalan tentu saja bukan Ahmadiyah, sebagaimana dijadikan
pembenaran pada kekerasan yang dilakukan FPI di Monas. Ahmadiyah
hanya menjadi picu bagi FPI yang terlanjur sering merasa pemerintah
tidak mengakomodasikan aspirasi mereka tentang negeri yang saleh
tanpa maksiat, tanpa kebobrokan moral, tanpa pertunjukan aurat atau
pornography, atau tanpa penodaan agama.

Persoalan Ahmadiyah yang dianggap sesat, menyimpang dan menodai
Islam sebaiknya diselesaikan dengan memberi cap bahwa Ahmadiyah
sesat. menyimpang dan menodai. Pembubaran Ahmadiyah nampaknya bukan
penyelesaian yang baik jika mengambil contoh sikap Nabi Muhammad SAW
sendiri yang tidak pernah menggunakan kekerasan ketika menghadapi
kelompok lain yang berbeda keyakinan. Saya tidak ingin lebih jauh
berargumen mengenai apakah Ahmadiyah sesat atau tidak sesat, karena
itu bukan porsi saya. Tetapi saya yakin porsi saya adalah untuk
mengatakan, bahwa memaksa orang lain dengan kekerasan untuk
melakukan apa pun termasuk untuk berkeyakinan adalah menyalahi
aturan apa pun. Itu berlaku juga untuk orang-orang yang mendorong
atau menginspirasikan orang lain, terutama orang-orang yang menjadi
pengikutnya untuk melakukan kekerasan.

Kesalahan pemerintah SBY yang utama adalah bukan karena tidak
membubarkan Ahmadiyah, tetapi karena tidak mampu mengurus negeri
morat-marit ini. Jadi mari bantu mereka yang menjadi korban
kebijakan kenaikan tarif BBM. Mereka adalah misalnya para pengemudi
angkutan umum, pekerja yang terus-menerus dikontrak, pengusaha kaki-
lima yang diburu seperti musuh negara, atau masyarakat miskin di
kota-kota besar yang hidupnya terombang-ambing para gubernur yang
terus menerus ingin “membasmi” mereka. Jadi jangan membuang-buang
waktu untuk bertengkar satu sama lain dengan menggunakan omong-
kosong soal agama.

Jojo Rahardjo
http://jojor. blogspot. com

Categories: Kata Teman Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: