Home > Kata Teman > Engineer yang Brilian itu Gak Bisa Apa-Apa

Engineer yang Brilian itu Gak Bisa Apa-Apa

Berikut sebuah artikel di ranah Project Management, saya ambil dari Blognya sahabat & temen saya Budi Hartono. Untuk teman2 & adik2 yang tertarik tentang Project management & topik2 lain yang menarik (at least menurut saya), dapat berselancar di BLOGnya mas Budi Hartono berikut: http://budihartono. wordpress. com
Mdh2an pak Moderator milist berkenan upload arikel ini.

ita lihat cerita berikut. Cerita fiktif namun banyak ditemui di dunia kerja – terutama di perusahaan yang berbasis proyek.

Fikto adalah seorang engineer yg relatif baru di perusahaannya. Termasuk angkatan muda – fresh graduate. Fikto diterima di perusahaan EPC ini gara-gara resumenya yang impresif. Akademik oke, pengalaman organisasi oke, bahasa Inggris oke, saat wawancara dengan user canggih, presentasi dahsyat dll ~ top dah. SDM menerimanya tanpa ragu dan memproyeksikan Fikto sebagai salah satu future leader.
Setelah bekerja sekian bulan, prediksi user dan SDM tak salah. Fikto benar-benar mulai keliatan keunggulannya. Kerjanya beres semua – dan yang lebih penting adalah ‘can-do attitudenya’. Well, dia kerja di EPC yg memang perlu attitude seperti itu. Setahun, dua tahun bekerja – bosnya mulai ngeliat si Fikto mulai kendor. Mulai sering banyak ngeluh, due date tugas-tugas meleset, banyak kekeliruan hitung & desain yg berujung rework, gak datang di meeting-meeting.

Apa yg terjadi dengan engineer muda nan hebat yg dulu? Kok (dulu) segitu brillian tapi keliatan sekarang kok gak bisa apa-apa? Salah rekrut? salah assesment or what?
Sounds familiar? Mungkin ini sebabnya.
Bisa jadi lho semua itu bukan kesalahan pribadi Si Fikto. Sebenarnya dia tetap hebat. Kita coba lihat salah satu kemungkinan penyebabnya dari pendekatan sistem.
Salah satu perilaku generik sistem [system archetype] yg sering disebut-sebut oleh systems thinker adalah tragedy of the common’. Kasus di atas mungkin bisa dijelaskan dengan system archetype yg ini.
Fikto adalah si Common-nya.
Jadi dalam hal ini kita bisa bilang, si Fikto yg common sedang mengalami tragedi. Tragedi apaan sih?

Lha Pak Boed, itu bukan common, tapi Kumon gmana to? aya aya wae !!

Waduh iya, iya, ntar dikira iklan lagi.
‘Common’ adalah aset / sumber daya perusahaan yg readily available dan accessible. Fikto dalam kasus di atas dikatakan common karena dia sebagai engineer (bagian dari resources) termasuk ‘laku’.
Kita ingat bahwa Fikto bekerja di perusahaan EPC yg biasanya menganut matrix organization. Salah satu karakter dari perusahaan yg menerapkan matrix organization adalah tingginya kemungkinan seorang karyawan untuk harus bekerja multi tasking -multi project. Dengan kata lain, karyawan (apalagi engineer) harus selalu ‘available’ untuk mengerjakan tugas di banyak proyek dalam waktu yg simultan.
Demikian juga dengan Fikto. Sejak bergabung dengan perusahaan, reputasinya sangat bagus. Semua kerjaan dikerjakan dengan sangat baik. Tidak pernah nolak perintah. Akibatnya dia jadi ‘laku’ dan terkenal di kalangan project manager (PM). Semua PM ingin merekruitnya.
Sayangnya, Fikto sebagai resources mempunyai keterbatasan kapasitas. Meski kapabilitasnya tinggi, waktu untuk Fikto dalam sehari tetep 24 jam. Dia bisa capek, bosen, stress, dll – Manusia biasa. Sayangnya, perusahaan tidak mau tahu (entah sadar atau tidak) ~ perlakuannya terhadap Fikto dalam jangka panjang akan berpengaruh buruk. PM proyek A merasa berhak untuk memakai Fikto dalam proyeknya dan sibuk dengan target proyeknya sendiri tanpa menyadari kepentingan proyek B. Proyek B, C, D dst demikian juga. Masing-masing PM bekerja dalam silo mengabaikan tataran SISTEM perusahaan ~ lebih-lebih kondisi Fikto.
So, dalam jangka panjang, apa yg terjadi dengan Fikto? Dia akan jadi ‘engineer yg brilian itu gak bisa apa-apa’. Overload, over burden, exhausted, demotivated.

Akibatnya kerjaan Fikto makin lama akan makin jelek, banyak rework (karena buru-buru), schedule slip, mangkir rapat (karena sibuk kerjain yg lain). Apa yg kemudian akan dilakukan oleh PM proyek A? Tentunya push terus Fikto. Proyek B? push Fikto juga. Mendapat pressure dari multi-bosses akan membuat Fikto makin demotivated, makin banyak salah ~ decreasingly poor performance. Dalam kasus yg ekstrim, mungkin inilah akhir dari karier engineer brilian itu. So sad!!
Sounds familiar? Pernah mengalami meski dalam derajat yg berbeda? Punya pendapat solusinya ~ silahkan share di sini.🙂
Wrapping up:
Pembahasan di atas adalah contoh bagaimana sebuah permasalahan coba ditelaah dengan pendekatan systems thinking. Sila lihat di sini tentang systems thinking. Ada beberapa karakteristik yg bisa diamati:
(a) perilaku sistem kadang terlihat counter-intuitive –> “engineer yg brillian itu gak bisa apa-apa”
(b) lihat perilaku dinamik sistem – jangan hanya dilihat snapshot –> cause and effect may distant in time
(c) elemen sistem kait mengait; tidak berdiri sendiri –> keputusan PM A mempengaruhi kinerja Fikto, mempengaruhi proyek B, mempengaruhi kinerja perusahaan secara umum dst
(d) solusi / leverage biasanya bisa ditemukan dengan memahami systems structure.

Link terkait:
kerja multitasking oleh pak Hendra
Say no to your Boss oleh Pak Sjafri

Categories: Kata Teman Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: