Home > Buku > GOBLOK, ENJOY AJA!

GOBLOK, ENJOY AJA!

Resensi Buku Best Seller “Guru Goblok ketemu Murid Goblok”
Harian Jawa POS. Minggu, 13 Juli 2008
Judul buku : Guru Goblok Ketemu Murid Goblok Hikmah Pembakar Jiwa
Entrepreneur dan Investor
Penulis: Iman Supriyono (M33, buku ke-7)
Penerbit: SNF Consulting, Surabaya
( http://www.snfconsulting. com )
Cetakan: I, Mei 2008
Cetakan II, Juli 2008
Tebal : 264 Halaman
Resensi oleh: Abd. Sidiq Notonegoro

GOBLOK, ENJOY AJA!
Sangat banyak di negeri ini orang yang sesungguhnya pantas disebut
sebagai orang goblok, tetapi tidak pernah mau untuk mengakui
kegoblokannya. Apalagi sampai dengan menyadari bahwa dirinya benar-
benar goblok. Mengapa demikian? Memang sangat memerahkan telinga —
dan pasti ingin melakukan tindakan-tindakan yang benar-benar
”goblok”– apabila ada yang menyematkan identitas pada diri dengan
panggilan ”orang goblok”.

Meskipun demikian, di balik sangat banyaknya orang goblok yang emoh
disebut sebagai orang goblok, masih ada sebagian kecil orang yang
sudi untuk mengakui dan menyadari bahwa dirinya memang goblok. Bahkan
mereka tampak enjoy untuk menyebut dan disebut sebagai orang goblok.
Mengapa pula demikian? Karena dengan memproklamasikan diri sebagai
”orang goblok”, mereka mampu melapangkan jalan kesempatan yang luas
dan panjang untuk selalu belajar dan belajar.

Salah satu manusia langka yang tidak malu untuk mendeklarasikan diri
sebagai ”orang goblok” adalah Iman Supriyono (dan gurunya, Abdul
Rachim). Dengan kesadarannya yang sangat dalam sebagai orang goblok,
akhirnya buku Guru Goblok Ketemu Murid Goblok ini pun lahir. Hebatnya
lagi, buku Iman Supriyono yang (merasa) goblok ini merupakan karya
buku ke-7. Hebat kan, orang goblok bisa menulis buku, sampai tujuh
lagi. Padahal yang selama ini mengaku ”pinter” saja banyak yang
tidak mampu menggoreskan satu pun kalimat bermakna, dan selalu marah
kalau dipanggil ”goblok”.

Tapi Iman Supriyono dan gurunya bukanlah orang ”goblok” yang
sembarang goblok. Mereka adalah jenis manusia ”goblok” khusus.
Menurutnya, kegoblokan manusia itu dapat dipilah menjadi tiga
tingkatan. Yakni, orang goblok yang masih menyadari bahwa dirinya
goblok. Goblok tingkat pertama ini bahkan menurut Iman Supriyono
merupakan goblok yang disarankan. Seseorang boleh saja (dan bahkan
harus) merasa goblok. Syaratnya, masih menyadari bahwa dirinya goblok
dan kemudian mau belajar terus. Bahkan setiap saat kita harus merasa
goblok. Maksudnya? Setiap saat merasa ada sesuatu yang kita ingin
bisa tetapi belum bisa. Tindak lanjutnya dengan belajar hingga bisa.
Begitu bisa, segera temukan apa lagi yang belum bisa. Temukan satu
kegoblokan lagi. Demikian seterusnya. Selalu goblok (hlm. 83). Inilah
yang disebut sebagai ”goblok dinamis” atau goblok yang beruntung.

Sedangkan tingkatan kedua, orang goblok yang tidak menyadari bahwa
dirinya goblok. Orang goblok jenis ini tidak akan pernah berkembang
(stagnan). Inilah yang juga bisa disebut dengan ”goblok statis”,
karena membiarkan diri untuk tetap goblok dalam satu hal selamanya.

Dan, tingkatan ketiga, orang goblok yang tidak merasa dirinya goblok
dan bahkan suka menggoblok-goblokka n orang lain. Inilah jenis manusia
yang terjangkiti penyakit goblok total, goblok sempurna, goblok
absolut. Orang goblok absolut ini bila dinasehati tentang
kegoblokannya, serta merta ia menolak. Bahkan merasa dirinya lebih
pintar dari orang yang menasehatinya. Inilah jenis manusia yang
merasa pintar padahal goblok. Karena itu, Iman Supriyono mewanti-
wanti agar kita tidak termasuk golongan orang yang goblok jenis ini.
Bahaya !!! (hlm. 84).

Tetapi, untuk menjadi ”goblok dinamis” pun membutuhkan kecerdasan
yang berlipat. Untuk belajar menumbuhkan kesadaran sebagai orang
goblok, dibutuhkan seorang guru yang bisa mendidik untuk bisa merasa
goblok. Nah, guru jenis ini pun ternyata juga sangat langka. Sebab
yang banyak ialah guru yang menuntut muridnya pintar dan cenderung
menyisihkan murid yang bergaya goblok. Sang guru kerapkali juga tidak
mau dikalahkan oleh muridnya, sehingga dia sendiri pun kemudian
menjadi sok pintar dan keminter.

Karena itulah, Iman Supriyono pantas merasa bersyukur karena bisa
bertemu dan mendapatkan guru yang sudi mendidiknya untuk bisa merasa
goblok. Lebih dari itu, Pak Rohim –yang diklaimnya sebagai guru
(dalam buku ini)– rela untuk menggoblokkan dirinya yang tidak pernah
bosan untuk mendidik dan bahkan memberi kepercayaan terhadap murid-
muridnya yang goblok.

Dengan tempaan guru gobloknya, akhirnya Iman Supriyono yang saat ini
merupakan konsultan senior di SNF Consulting tidak pernah berhenti
untuk terus merasa goblok. Salah satu bukti kesadaran akan kegoblokan
dirinya ialah tentang mimpinya untuk bisa membuat kantor konsultan
yang bisa dipercaya perusahaan-perusaha an kelas dunia. Akan tetapi
hingga saat ini belum tercapai. Belum bisa. Goblok. Dan, karena itu,
ia tidak akan pernah berhenti untuk mengentaskan diri dari ambisi
goblok tersebut hingga mimpinya jadi kenyataan.

Memperhatikan semangat Iman Supriyono yang meledak-ledak untuk
membakar jiwa entrepreneur dan investor ini, maka kehadiran buku
perlu menjadi pegangan wajib bagi mereka yang ingin melepaskan diri
dari kegoblokan statis dan bahkan kegoblokan absolut. Bahkan tidak
hanya bagi mereka yang sedang ingin mengembangkan usaha bisnis jasa
saja, tetapi juga para pendidik (guru dan dosen) yang selalu merasa
sok lebih pandai dari murid atau mahasiswanya. Teladan Pak Rohim —
yang selalu merasa sebagai guru goblok– perlu diwarisi para pemegang
kunci gerbang dunia akademis.

Ada banyak kelebihan dari buku ini. Bahasa yang digunakan sangat
mengalir dan enak untuk dibaca –saya seperti sedang membaca sebuah
novel. Selain itu, sentilan-sentilan pedas tidak justru membuat kita
marah dan menutup buku. Tapi sebaliknya, justru kian bernafsu untuk
menuntaskannya. Tidak ada kata lain untuk memuaskan rasa penasaran di
balik judul buku yang terkesan ”melecehkan’ ‘ itu, kecuali membaca
isinya. Karena hanya orang-orang goblok absolut saja yang pasti
enggan untuk menikmati buku ini. (*)

Abd. Sidiq Notonegoro, pengajar di Universitas Muhammadiyah Gresik

Categories: Buku Tags:
  1. September 10, 2008 at 5:53 am

    salam kenal dari penulis buku guru goblok ketemu murid goblok

    iman supriyono

  2. September 11, 2008 at 12:55 am

    wah …. makasih mas… senang sekali bisa dikunjungi oleh penulis…
    salam kenal juga mas iman,
    wah gimana mas berhasil cetak buku mas?
    saya juga pengen buat buku ni mas…critanya..
    ok deh mas moga bukunya laris….
    kalo dah laris jangan lupa ma saya ya mas….he3
    sukses!!!

  3. September 13, 2008 at 3:07 am

    sudah baca bukunya blon?

  4. Izza
    September 20, 2008 at 10:04 am

    kalo pak iman adalah penulisnya, maka saya adalah anak penulisnya (apa hubungannya?). salam kenal, izza.

  5. September 20, 2008 at 10:28 pm

    he3….iya mas iman….
    baru baca sebagian, itupun pinjem ma temen
    semoga diberi kesempatan memiliki sendri mas
    oh ya salam kenal juga dengan Izza
    wah bener ini anaknya mas Iman?
    kalo bener jadi reuni keluarga donk blog saya…
    ma kasih semuanya mau kunjungi blog saya
    semoga sukses semua…!!!

    salam kaki lima subang

  6. October 9, 2008 at 12:39 am

    tul. izza adalah anak pertama saya. selamat membaca. moga bermanfaat

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: