Home > Celoteh > Kisah-kisah teladan

Kisah-kisah teladan

Selepas Ramadan kerinduan akan bulan suci ini pasti tidak terperi penantiannya. Penantian akan bulan yang penuh berkah, pembelajaran, serta pengampunan. Bagi penulis setidaknya, selalu teringat satu cerita yang mungkin sudah lama terpendam dalam benak kita semua.

Dikisahkan, ketika seorang pemuda, Idris, sedang duduk beristirahat di bawah kerindangan pohon di tepi sungai setelah jauh berjalan, tiba-tiba azan Magrib tanda berbuka puasa sayup-sayup terdengar olehnya. Saat itu cadangan makanannya telah habis untuk sahur. Ia kehabisan bekal untuk berbuka puasa.

Sekejap kemudian matanya melihat sebuah delima yang di tepian sungai.

Tangannya segera menggapai delima tersebut dan dengan lahap ia makan sampai habis.

Namun, setelah menunaikan salat Magrib, nuraninya menyadarkan bahwa delima yang dilahapnya hingga habis tadi jelas-jelas bukan miliknya. Dan pastilah ia tidak halal baginya. Baginya ketidakhalalan adalah sumber kenistaan dunia dan akhirat. Malam itu, ia pun berniat esok pagi mencari pemilik delima agar apa yang diperbuatnya magrib tadi dihalalkan.

Esok harinya, Idris menyusuri sungai tempat pohon delima itu tumbuh. Dia mencari sang pemilik pohon delima. Akhirnya ia menemukan rumah yang tidak terlalu jauh dari tempat ketika ia memetik delima kemarin. Setelah basa-basi dengan penghuni rumah, Idris memohon agar delima yang dimakannya dapat dihalalkan oleh sang pemilik.

Al’Arif bin Billah adalah pemilik kebun. Ia dikenal sangat arif oleh warga sekitar. “Baik, tapi ada syarat untuk mendapatkan sesuatu yang halal itu.

Kalau kamu sanggup memenuhi syarat saya, delima yang kamu makan kemarin akan saya halalkan. Bagaimana?”

Idris menyanggupi syarat yang diajukan pemilik kebun demi kehalalan makanan yang ia santap. “Untuk mendapatkan halal dari saya, kamu harus mengaji dan bekerja pada saya selama dua tahun, tanpa bayaran kecuali makan gratis di tempatku seadanya.”

Selama dua tahun pemuda Idris mengaji dan bekerja dengan ikhlas pada Billah.

Setelah dua tahun penuh digenapinya, Idris menghadap pemilik kebun delima dan menuntut ikrar halal. Akan tetapi, Billah memberi beban tambahan pada Idris. “Delima yang kau makan akan saya halalkan kalau kau mau menikahi putriku. Tetapi sebelumnya kamu harus tahu, bahwa putriku itu buruk rupa, lumpuh, buta, tuli, dan bisu. Bagaimana?”

Idris menyanggupi hal tersebut. Lalu menikahlah Idris dengan Fatimah (anak Al’Arif bin Billah) yang sampai dengan saat nikah belum pernah dilihatnya.

Billah lantas meminta maskawin yang aneh, yaitu mendidik Fatimah berhias, melatihnya berjalan, menuntun perjalanannya, membuatnya mendengar, dan mengajarinya berbicara. “Ya, saya sanggupi maskawin tersebut,” ujar Idris.

Maka menikahlah Idris dan Fatimah.

Seusai prosesi, Idris dipersilakan masuk ke kamar pengantin. Begitu membuka tirai pengantin, Idris menyampaikan salam pada istrinya. Mendengar salam Idris, gadis di dalam kamar itu berdiri dan menjawab dengan lembut. Mata Idris terpana pada seraut wajah yang rupawan. Sejenak Idris termangu, kemudian ia berbalik menuju ruang utama menemui mertuanya, Al’Arif bin Billah. “Maaf Pak, saya tidak menjumpai pengantin saya. Saya hanya melihat gadis muda yang rupawan, bersuara merdu, bermata bagai kejora, yang begitu saya ucapkan salam ia menjawab dengan lembut, bagaimana ini?”

Sang mertua menjawab dengan senyum, “Itu memang pengantinmu. Dia buruk rupa, seperti yang saya sampaikan padamu tempo hari, buktinya sampai sebesar ini belum ada yang meminang dan menikahinya, kecuali dirimu. Dia lumpuh, artinya ia tidak pernah mau pergi ke mana-mana. Dia buta dari keindahan dunia di luar rumah ini. Dia tuli dari mendengar pergunjingan tetangga, dan ia bisu karena tidak mau sembarang bicara. Itulah dia, anakku, Nak! Kami titipkan anakku, Fatimah, untuk kamu bimbing,” ucap Al’Arif bin Billah.

Dari pernikahan Idris dan Fatimah inilah lahir mujahid besar bernama Mohammad bin Idris Asy-Syafi’iy yang mazhabnya dijalankan hampir semua umat Muslim di dunia.

Ada banyak pesan yang bisa kita ambil hikmahnya. Salah satunya yang terpenting, setidaknya bagi penulis, adalah apakah selepas Ramadan kita dapat berperilaku yang sama seperti ketika berada pada bulan mulia ini?

Atau, jika ditarik ke arah lain, mengapa negara ini tidak mampu keluar dari

permasalahan- permasalahan yang telah mengukung lebih dari sepuluh tahun?

Apakah ada hubungan antara perut yang diisi (dengan makanan yang diragukan

kehalalannya) dan persoalan-persoalan yang mengimpit bangsa kita?

Jawabannya bisa jadi “ya”. Generasi kita, sepertinya, adalah generasi yang mementingkan diri sendiri, generasi yang hedon(is), materialistis, yang mencari kesenangan sesaat. Tidak heran apabila saat ini dapat dengan mudah kita temui kasus, seperti perilaku amoral anggota dewan yang mengumbar kenikmatan sesaat dengan perempuan bukan muhrimnya, artis yang tertangkap tangan menggunakan napza, anggota komisi yang disinyalir menerima suap dari klien, penjualan kekayaan alam (SDA) milik warga demi kepentingan pribadi, korupsi dengan angka-angka fantastis, dan lain-lain.

Lantas, tidak dapat dimungkiri pula bahwa kita telah gagal melahirkan pemuda-pemudi berkarakter, berjati diri, dan bermoral. Dalam konteks pemilihan kepala daerah saja, misalnya, kita kekurangan stok anak muda.

Hampir semua kepala dan wakil kepala daerah terpilih adalah mereka yang berusia di atas 47 tahun. Ini juga pada akhirnya yang mengantarkan kita pada calon-calon presiden “tua” untuk Pemilu 2009. Wajah-wajah lama dengan jejak rekam yang mengecewakan, jika melihat realita, akan mewarnai kepolitikan Indonesia . Artinya, sampai dengan tahun 2014 kita sukar mengharapkan perubahan ke arah yang lebih baik, jika merujuk pada format yang ada saat ini.

Belum lagi jika kita elaborasi pada tatar teknis birokrasi. Semestinya, birokrasi yang ada saat ini, yang telah dan tengah merekrut anak muda berbakat Indonesia berperilaku berbeda dengan (birokrat) pendahulunya. Namun kenyataannya, birokrasi tidak jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya.

Korupsi, sogok, kolusi, nepotisme, serta label-label negatif lainnya seperti tidak mau menjauh dari birokrasi kita.

Kekhawatiran menyeruak ke permukaan, jangan-jangan apa yang masuk ke dalam perut kita dan anak-anak kita tidaklah berasal dari sumber-sumber seperti dilakukan pemuda Idris. Sehingga tidak heran apabila perubahan-perubahan konkret yang dinantikan bagi negeri ini hanya menjadi penantian panjang sampai kita kemudian mengubah perilaku ke arah yang dianjurkan. Harapannya, tentu saja, melalui momentum Ramadan kita mau mulai mengubah sumber rezeki yang kita peroleh dari tempat-tempat yang halal dan thoyiban. Dan, semoga Allah Swt, Sang Maha Penggerak Hati, tetap memberikan hidayah-Nya pada kita semua selepas Ramadan kali ini….

Categories: Celoteh Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: