Home > Celoteh, Kata Teman > KREDO JALAN PINTAS DAN KORBANNYA

KREDO JALAN PINTAS DAN KORBANNYA

Kontes-kontesan sudah menelantarkan banyak orang bahkan mengantarkan pada
maut? Cerita ini bukan isapan jempol. Peristiwanya sendiri terjadi setelah
acara kontes berakhir. Hati-hati, ajang pamer keterampilan seni yang kini
marak di sejumlah stasiun TV itu cenderung hanya menguntungkan penyelenggara
dan bisa membangkrutkan peserta.

Mobil parkir berderet-deret menyita satu jalur di satu ruas Jl. Gatot
Subroto beberapa waktu lalu. Pasangan ibu dan putrinya berseliweran begitu
turun dari kendaraan umum. Beberapa di antaranya tampak membereskan dandanan
yang kusut di pinggir jalan. Lalu deretan manusia berjalan menuju satu
titik: pintu masuk Museum Satria Mandala. Dari tengah jalan saat melintas,
kanan-kiri koridor menuju bangunan di tengah kompleks museum itu sudah
berhiaskan puluhan spanduk. Di situpun, sudah terjadi antrian yang tampak
makin meluber mendekati pintu masuk. Ada apa gerangan dengan jubelan ibu dan
anaknya yang remaja usia SMP ke atas di pagi yang mendung dan gerimis itu?

Ternyata pagi itu adalah saat audisi bagi pasangan ibu-anak yang punya mimpi
untuk tampil di satu acara TV swasta yang sedang mendapat rating tinggi.
Acara berkonsep reality show yang menampilkan drama seputar unjuk kebolehan
kemampuan nyanyi dan jadi pelakon di panggung yang disorot kamera dan
langsung ditayangluaskan.

Ironis
Pemandangan ini terasa ironis bila dibandingkan dengan kisah Ian Kasolo dari
Solo yang kini terjerat utang jutaan yang dipakai untuk ngebom SMS supaya
lancar jadi bintang terkenal. Dalam tulisan Kisah Selebriti Gagal (Kompas,
30 Maret 2008), diceritakan betapa setahun lalu, hampir setiap akhir pekan
Muhammad alias Ian Kasolo (39) tampil di televisi sebagai selebriti yang
tampak glamor.

Kini dia bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di satu usaha katering
rumahan. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes Dangdut Mania
I, kini hidupnya terkatung-katung tanpa pekerjaan dan uang.

Setelah menyingkirkan ribuan peserta kontes, bujangan asal Solo yang lulusan
SMA ini rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai kurir satu bank swasta di
Solo. Karena tekadnya menjadi pemenang kontes, pria berwajah mirip vokalis
band Radja ini, setiap minggu ngebom SMS. Ngebom artinya adalah mengirim SMS
sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri agar perolehan suaranya terdongkrak.

“Saya bisa menghabiskan Rp5 juta untuk beli voucher telepon setiap minggu.
Kalau ditotal selama acara itu saya habis Rp30 juta,” kata Ian yang mendapat
uang sebanyak itu dari pinjaman keluarga dan lintah darat. Hasilnya nihil.
Ian tereliminasi juga. “Sekarang terkenal tidak, terlilit utang iya.”

Simak pula kisah Angga Dewangga juara lomba cipta lagu dangdut satu stasiun
TV pada 2006. Dalam artikel Cerita Pangeran Temanggung (Kompas, 6 April 08)
diceritakan pemuda asal Kampung Tegaron, Desa Kemiri, Kecamatan Kaloran,
Temanggung itu meraup perolehan terbanyak: 19,9 persen dari 20.057 SMS. SMS
untuk Angga ini disumbang oleh kepala desa, bupati, hingga pejabat pemda.

Namun Angga tak bisa mewujudkan mimpinya jadi bintang yang sesungguhnya.
Gelar juara itu tak memberinya kemudahan untuk bisa menembus perusahaan
rekaman sehingga dia jadi pengamen.

Bisa jadi dia sangat frustrasi meskipun sempat menjadi kebanggaan
orangtuanya, Angga terkena tipus kronis dan meninggal pada 25 Maret 2008.
Dia meninggal pada usia 30 tahun.

Kredo Jalan Pintas
Fakta itu menegaskan betapa terobsesinya warga bangsa ini dengan mimpi
ngetop seketika. Betapa orientasi jalan pintas itu begitu berurat berakar.
Bahwa proses menuju sukses yang berliku dan penuh perjuangan bisa jadi sama
sekali tak masuk pikiran. Apalagi kredo bahwa sukses harus diawali dengan
ketekunan dan tak lelah belajar.

Namun agak terhenyak setelah mendengar komentar sejumlah peserta antrian
audisi di tayangan TV petang harinya yang memberitakan kehebohan itu. Satu
peserta dari luar Jakarta yang diwawancara saat dalam antrian mengatakan
bahwa yang dilakukan adalah untung-untungan untuk mengubah nasib.

Ternyata pesertanya yang mencapai seribuan orang, rata-rata memang hanya
sekadar bermimpi. Betapa tidak karena mereka rela berjubel dan bisa jadi
membayar formulir untuk bisa ikut serta dalam audisi dengan bekal yang
pas-pasan: beberapa yang diminta menyanyi suaranya jauh dari merdu.

Jelasnya memang kemampuannya sangat minim meskipun percaya dirinya boleh
diacungi jempol. Di satu sisi memang ada spirit juang yang patut dihargai.
Tapi sejauh mana makna perjuangan itu–yang biasanya disampiri berbagai niat
mulia nan luhur-juga diragukan karena hakikatnya memang tak ada pilihan lain
yang bisa ditempuh.

Belum lagi soal penghargaan terhadap bidang lain yang perlu usaha lebih
keras-misalnya juara kimia, fisika, atau matematika-yang tentu di luar
pertimbangan untuk difasilitasi dengan cara setara. Bisa jadi dalihnya: apa
yang bisa ditonton dari para siswa yang sedang sibuk berpikir dengan aksi
panggung yang tentu saja jauh dari menarik.

Betapa sangat menggoda untuk mengambil kesimpulan bahwa yang dihargai oleh
bangsa ini masih sebatas profesi para penampil. Profesi yang jelas lebih
mengandalkan penampilan fisik yang mudah dipoles untuk memancing kekaguman
dan kesan. Padahal jelas ada pepatah bahwa jangan menilai buku hanya dari
sampulnya. Faktanya industri hiburan perlu pasokan wajah baru terus menerus.
Soalnya tayangan musik dan sinetron dengan cerita intrik memperebutkan harta
dan mengumbar berbagai macam trik untuk mencurangi orang lain itu kini sudah
mencapai ratusan jam tayang setiap minggu dan mesti terus diperbarui agar
tetap menarik penonton. Jumlah yang berkali lipat banyaknya untuk tayangan
tentang ilmu dan pengetahuan.

Memprihatinkan
Jadi sangat memprihatinkan saat apresiasi hanya diarahkan dan dipompakan
untuk menghargai kemampuan yang minim sumbangannya pada kemajuan. Bukannya
tak menghargai profesi penyanyi dan bintang sinetron atau film layar lebar.
Tapi sungguh betapa naifnya: saat bangsa lain terus berjuang menguasai
sisik-melik teknik berkreasi berdasarkan penelitian garda depan, kita
cenderung kurang menghargai olah pikir.

Di sinilah peran pemerintah yang tak sekadar memberi dorongan swasta untuk
mengambil alih tugas pemerintah. Tapi juga mengarahkan nilai-nilai apa yang
mesti dipupuk demi tercapainya kemajuan. Tidak sekadar menyerahkan segalanya
pada mekanisme pasar yang jelas hanya akan berorientasi pada keuntungan.

Alasan utamanya karena logika instan itu cenderung memanipulasi. Bahkan
peserta kontes sendiri juga tahu bahwa cara-cara yang dilakukan sebenarnya
tidak jujur. Buktinya mereka dengan sukarela membeberkan kiat ngebom SMS
yang jelas suatu tindakan menghalalkan segala cara. Singkat kata cara instan
itu juga menyesatkan karena hanya memberi harapan semu.

Bagaimana orang berani berspekulasi dengan ngebom SMS dengan harapan bisa
menang kontes dan seketika ngetop. Bisa saja hal itu dianggap sebagai risiko
dan konsekuensi belaka. Tapi bukankah cenderung menjerumuskan bila
memberikan kesan kuat dab begitu membius akan jadi sukses dengan segala
iming-iming tanpa sedikit pun menyinggung risiko.

Kiat atau bahkan kebiasaan yang cenderung membuat orang yang jadi objek
tutup mata. Memang semua tak bisa dituntut di muka hukum karena tak ada
perjanjian hitam-putih yang eksplisit. Tapi mungkin di saat inilah
koridornya menjadi sangat longgar yang membolehkan siapa pun bertingkah
semaunya, termasuk “memberi harapan kosong”.

Yang lebih fair mungkin memberikan bagi hasil dari seluruh transaksi yang
terjadi dalam kontes. Bisa saja atas nama bisnis yang etik. Tapi hal ini
pasti tak masuk pertimbangan penyelenggara yang merasa telah memberi
kesempatan dan merasa berhak mengeruk keuntungan sebanyak mungkin. Ambisi
yang lalu menjadi tak ada batasnya dan cenderung menghalalkan segala cara.

Solusi Pendidikan
Mungkin yang paling penting adalah membuat semua yang berpotensi jadi korban
kontes-kontesan lebih kritis dalam berpikir. Bahwa bagaimanapun pemenang, di
ajang kompetisi apapun, hanya ada satu atau beberapa gelintir. Selalu ada
pihak yang kalah. Bahwa publik yang dicatut namanya, biasanya hanya massa
mengambang yang tak punya nurani dan tak menghiraukan nasib yang kalah.

Bahwa jor-joran mengirimkan SMS untuk mendukung diri sendiri adalah tindakan
yang spekulatif dan tak masuk akal karena tak jelas berapa peluang
suksesnya. Yang bisa jadi patokan adalah bahwa yang paling banyaklah yang
menang. Dan siapa yang bisa mengirim SMS paling banyak kalau bukan yang
paling kuat modalnya.

Tak ketinggalan bahwa keajaiban atau hal tak terduga bisa saja terjadi. Tapi
hal yang di luar kalkulasi rasional itu tentu peluangnya sangat kecil. Dan
satu hal lagi, keajaiban itu biasanya hanya menyamarkan kenyataan bahwa
selalu ada dasar yang menyebabkan kemunculannya. Yaitu talenta dan khususnya
keterampilan yang luar biasa mengesankan.

Untuk yang terakhir ini tentu saja ketekunan, kerja keras, dan dedikasilah
yang bicara. Bukan sekadar mengandalkan fasilitas dan modal, tapi
benar-benar kemampuan untuk terus mengasah yang ada dalam diri. Terutama
bagaimana terus menghidupkan motivasi untuk menjadi lebih baik, termasuk
kemampuan untuk terus mencari peluang.

Bahasa tingginya bagaimana terus punya etos dan semangat untuk bekerja keras
menampilkan yang terbaik. Dan untuk ini apalagi cara yang bisa ditempuh
kecuali dengan pendidikan-dalam arti luas termasuk pelatihan-yang akan
memberikan gemblengan dan wawasan kepada orang itu sendiri.[rab]

* Rab A. Broto adalah seorang penulis, editor, dan trainer. Ia dapat
dihubungi di: nauram@yahoo.com

Categories: Celoteh, Kata Teman Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: