Home > Celoteh, Kata Teman > Satu Nusa, satu Bangsa dan satu Bahasa – Gunakan Istilah Indonesia

Satu Nusa, satu Bangsa dan satu Bahasa – Gunakan Istilah Indonesia

Indonesia sebagai negara Asia Tenggara terbesar ekonominya (bukan per
capitanya) dan negara berkembang dg penduduk no. 4 di dunia, tak harus
ikut-ikutan negara lain, apalagi negara maju.

Apa yang dianggap tepat untuk kepentingan nasional, ya diputuskan, tak
perlu terlalu risau yang lain, walaupun tak harus mengabaikan dampak
pengaruh dari negara2 besar atau negara maju.

Dalam setiap usaha, siapa yang memimpin itu juga penting. Kalau mereka
dipercaya dan juga dipercaya di dunia, maka itu suatu jaminan
tersendiri. Bahkan Indonesia sebagai satu-satunya negara ASEAN atau Asia
Tenggara diundang duduk di G-20 oleh Presiden Bush. Ini saja sudah
merupakan suatu pengakuan akan keberhasilan kebijakan ekonomi sendiri.
Dan trio profesional Budiono di BI, Menko Ekonomi/Menkeu Sri Mulyani dan
Menteri Perdagangan Mari Pangestu, memberikan jaminan profesional
tersendiri dalam setiap kebijakan ekonomi.

Dalam bidang telekomunikasi sejak Plenipotentiary Conference ITU 1982,
Nairobi, Indonesia telah menunjukkan kemandiriannya thd negara maju dan
adikuasa saat itu dg merangkul negara2 berkembang di Asia, Afrika dan
Amerika Latin, sehingga untuk pertama kali terpilih masuk Council ITU.

Dan kerjasama antara negara berkembang yang terus dipupuk ini berpuncak
pada usul Indonesia ttg restrukturisasi ITU sebagai Badan Dunia, yang
hampir mustahil (mission impossible) dan amat sangat kontroversial
tetapi didukung mayoritas negara berkembang dan ditentang semua negara
maju dan adikuasa, pada Plenipot 1989, Nice. Alhamdullilah, akhirnya
diterima pada Plenipot Tambahan 1992 di Jenewa. Kalau sebelumnya ITU
butuh waktu penetapan Standar 4 tahun, maka kini sudah bisa dalam waktu
3-4 bulan. Dengan demikian ITU tidak hanya terhindar dari pengelompokan
standar regional yang sangat merugikan negara2 berkembang yang tak
memiliki industri sendiri, tetapi diakui sebagai badan standar
internasioinal yang termuka (pre-eminent international standardization
organization) .

Ya, memang Indonesia itu khas, bukan sombong, tetapi itu kenyataan yang
tak bisa dibantah dan tak ada duanya di dunia, penduduk, geografi, lebih
dari 1000 etnik dan lebih dari 300 bahasa, tetapi satu Nusa, satu
Bangsa, dan satu Bahasa. Dan walaupun mayoritas beragama Islam, tetapi
bukan negara agama. Lihat saja inovasi dan kemampuan otak Indonesia
dalam berbagai penampilan internasional, perkembangan kesenian yang luar
biasa indah dan hebatnya (sampai ditiru dan dipaten orang), jenis
kuliner atau makanan yang tak terhitung dan mau dipaten orang segala.
Pokoknya kalau Indonesia mau, pasti bisa. Tinggal mau digunakan atau
dipendam atau di-eman-eman terus, karena potensinya ada.

Tetapi yang merisaukan bahwa makin banyak perusahaan dan BUMN
telekomunikasi terpandang Indonesia lebih bangga pada pemakaian istilah2
jabatan dan nama proyek berbahasa asing daripada mencari sendiri
istilah2 Indonesia yang mengesankan.

Demikian juga istilah2 teknis yang dahulu sudah menggunakan istilah
bahasa Indonesia dg susah payah, kini mulai ditinggalkan. Pakar2 kita
yang lebih muda, saya juga masih muda -:), dengan entengnya menggunakan
istilah2 bahasa Inggeris, tanpa usaha untuk mencari padanan kata
Indonesianya.

Loh, kalau bukan ahlinya yang mencari istilah nasional, siapa lagi yang
akan melakukannya? ! Jadi tolong deh, walaupun susah, dalam membuat
peraturan perundang-undangan nasional atau paparan dan tulisan agar
memberi sumbangan pada penggunaan istilah nasional.

Itulah sumbangan yang bisa diberikan generasi saat ini dan akan datang
untuk meneruskan jiwa dan semangat dan memperingati 80 tahun Sumpah
Pemuda 28 Oktober 2008.

APhD
PS. Pengumuman Dubes AS yang memberi kesempatan lotere bagi 3.500 WNI
untuk berdiam di AS dg alasan a.l. AS ingin agar mereka dapat belajar
dari keberhasilan Indonesia dalam persatuan dan kebhinekaan agama dan
suku yang begitu beragam, sungguh menggembirakan. Berbeda 180 derajat
ketika Indonesia menghadapi keterpurukan ekonomi 10 tahun lalu, sehingga
sulit memperoleh visa belajar di AS sekalipun. Padahal Indonesia ya
Indonesia, tetap sama saja, bukan? Ada bedanya, dulu Indonesia terjeblos
IMF, sekarang Indonesia mandiri. -:)

Nies Purwati

Categories: Celoteh, Kata Teman Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: