Home > Celoteh > Surat Cinta dari Guru

Surat Cinta dari Guru

Ck, ck, ck…ke-teveel- an

Guru-guru kita memang mengenaskan nasibnya di Republik kita ini.
Ayah saya juga guru, mula-mula di SD Belanda dan kemudian menjadi Guru
SGB (sekolah guru bawah). Pada saat itu gaji guru hingga pertengahan
50an masih lumayan untuk hidup sehingga saya bisa memperoleh pendidikan
di sekolah2 dg guru yang baik dan berdedikasi penuh pada kemajuan
anak-didiknya. Setelah itu terkena inflasi makin menurunlah gaji riil guru.

Saya tak bisa membayangkan andaikata guru2 saya pada saat itu tak
bermartabat, apa jadinya saya sekarang ini. Dan saya juga yakin banyak
dari anda yang memiliki kedudukan yang baik atau minimal tidak jelek
akan sependapat betapa jasa guru-guru kita saat kita di SD, SMP, SMA
dst, bukan?

Guru yang kita junjung begitu tinggi pada saat itu, kini ada yang harus
jadi tukang beca atau pedagang untuk cari tambahan. Ini bukan untuk
menunjukkan bahwa kedua profesi terakhir tidak terhormat, tetapi tak
layak saja kalau guru harus jadi tukang becak, itu pekerjaan jauh
berbeda satu dg yang lain. Yang satu pemikir dan pendidik sedangkan yang
lain itu memang kerja fisik yang mungkin tak ada pilihan lainnya.

Nah kalau memang guru yang cerita di bawah ini benar terkena teguran
dari WaPres, maka saya hanya bisa berdecak Ck, ck, ck. (dalam hati
geram) Kok bisanya, kok teganya.

Bukannya justru malu dan berterima kasih diberi lantunan puisi yang
mengeritik keteledoran pemerintah, dan kemudian berjanji untuk
memperbaiki (ini akan simpatik dan pasti dihormati siapapun, daripada
marah2 dan tersinggung dsb)
Apa ini bukan kacang lupa akan kulitnya?!
.
Kadang2 saya mengamati bahwa omongan2 dan tindak-tanduk dan campur
tangan beberapa pucuk pimpinan negara kita ini termasuk istilah
“keteveelan” (ini istilah dari alm. pak Soesilo Soedarman, Menparpostel,
akhir 80an dan awal 90an, kalau melihat tingkah laku orang yang
berlebihan, tentunya kalau zaman pak Soeharto bukan terhadap atasan. Ini
istilah dari Belanda “te veel=terlalu banyak” lalu ditambah awalan “ke”
dan akhiran “an”, sehingga lebih halus kedengarannya) .

Semoga bisa dikembalikan martabat pahlawan pendidikan Bangsa Indonesia,
APhD
PS. Saya memang tidak pasang istilah OOT, karena sudah menyangkut segala
bidang dan secara tersirat termasuk telematika.

Subject: [madha] Surat Cinta dari Guru
Date: Tue, 11 Nov 2008 00:20:37 -0800 (PST)
From: Sri Palupi <mgspalupi@yahoo. com>
Reply-To: madha@yahoogroups. com
To: madha@yahoogroups. com

Anak-anakku,

Jika hari-hari ini kebersamaan kita terganggu, bukan karena kami melalaikanmu.
Kami tahu seberapa besar harapan dan asa kalian untuk meraih gemilangnya masa
depan.

Kami juga tahu seberapa tinggi cita-cita yang kau gantungkan setelah dewasa
nanti, seberapa ingin kau menjadi manusia mandiri yang tidak merepotkan
orangtua, memberi sebanyak-banyaknya manfaat buat orang lain.

Berguna bagi agama dan bangsa ini. Semua kemuliaan itu, kau pancang
tinggi-tinggi bersama kami.

Kami bahagia mengemban tugas mulia ini. Jangan ragu anak- anakku, seperti
kata Ki Hadjar Dewantara ing ngarso sung tulodo; ing madya mangun karso;
tut wuri handayani kami selalu ada di depanmu untuk memberi contoh, di
sampingmu untuk membimbing atau berada di belakangmu untuk memberikan dorongan. Kami selalu siap bersamamu, karena itu sudah menjadi panggilan jiwa dan kewajiban kami.

Kamu saksikan banyak temanmu sebelumnya yang telah menjadi tukang insinyur,
dokter, hakim, pengusaha, menteri, bahkan presiden, yang telah berhasil dan
sukses karena bimbingan kami. Kalau kami sebutkan demikian bukan karena ingin
dipuji, apalagi diberi penghargaan, sesuatu yang memang sulit kami dapatkan,
tetapi sebagai hal yang akan kami simpan dalam hati, yang selalu kami
banggakan, yang selalu kami syukuri. Betapa kami bahagia melihat kalian sukses. Betapa besar rasa syukur kami ketika jerih payah kami tidak sia-sia.

Guru juga manusia

Akan tetapi, mohon maaf jika kebersamaan kita akhir-akhir ini agak berubah
atau mungkin perubahan terasa sangat drastis, jika terlihat lain tidak seperti
biasa. Akhirnya kami harus mengakui keterbatasan ini. Kami harus memikirkan
kepentingan lain.

Guru juga manusia. Kami harus memperjuangkan hak-hak kami setelah 60 tahun
kami membimbing kalian, setelah sekian lama kami mengabdi. Tentu saja kepada
negara ini, yang sekarang dipimpin oleh orang- orang yang sebelumnya kami
bimbing. Entah mereka mengakuinya atau tidak, yang jelas mereka kurang
memerhatikan nasib kami.

Ternyata makin hari hidup kami bukannya makin baik, bukan makin sejahtera,
malah makin susah. Ketika taraf hidup negara ini makin tinggi, pendapatan
kami tidak berubah. Ketika harga-harga membubung tinggi sampai ke langit,
kami masih berpijak di bumi dengan kaki yang menempel di tanah. Penghasilan
kami tidak juga bertambah. Apalah artinya kenaikan gaji yang sedikit
dibandingkan dengan melambungnya harga-harga?

Akhirnya, lama-lama kalian akan tahu masalah kami. Besok atau lusa kalian
akan tahu kegundahan kami, betapa kami di tekan oleh masalah dapur, masalah
perut. Masalah bagaimana mempunyai rumah yang layak karena rumah yang tetap
adalah impian kami setelah selama ini hanya mampu kos atau mengontrak rumah
bersama-sama dengan teman seprofesi.

Masalah bagaimana memiliki kendaraan untuk memudahkan kami bertugas setelah
selama ini hanya memakai sepeda, memakai kendaraan umum atau berjalan kaki.
Masalah bagaimana mencukupi kebutuhan rumah tangga, yang sebagian kami penuhi
dengan cara mencicil, kredit sana- sini, memberi makan anak istri, bagaimana
mengobati anak istri yang sakit. Dan segudang masalah yang harus kami penuhi
dengan gaji alakadarnya.

Teman-teman kami bahkan banyak yang hidupnya lebih parah dibandingkan kami.
Di pelosok desa terpencil, di kampung-kampung yang jauh dari kemajuan
teknologi, bahkan banyak yang melaksanakan tugas tanpa perhatian sama sekali.

The show must go on, kami harus terus melaksanakan tugas ini. Karena,
bagaimanapun juga keadaan, apa pun yang terjadi, hati kami tidak tega
meninggalkan kalian begitu saja. Tidak mungkin kami melalaikan kalian.

Itu tidak mungkin.

Membimbing kalian sudah panggilan jiwa. Mengajar kalian adalah kepuasan batin
kami. Tapi, dengan berbagai permasalahan yang kami hadapi, kalian saksikan
berbagai kepincangan yang semestinya tidak terjadi.

Kami akhirnya mencari cara lain untuk mencukupi kebutuhan dengan menaikkan
biaya sekolah, padahal kalian juga banyak yang miskin, tidak mampu. Juga
dengan menjual buku-buku pelajaran, menjual LKS, memberi tugas tambahan yang
ujung-ujungnya membebani kalian dalam masalah keuangan.

Sebagian dari kami melakukannya dengan usaha sambilan lain, mengajar di
beberapa sekolah. Bayangkan bagaimana kami bisa mengajar dengan maksimal
kalau tenaga kami sudah habis di jalan. Sebagian dari kami ada yang menjadi
tukang ojek, tukang becak atau tukang parkir pada malam hari untuk mencari
tambahan sesuap nasi.

Sebagian dari kami datang ke sekolah untuk mengajar sambil berdagang ini-itu.
Malu sudah nomor sekian. Kalian boleh tanya ke bank, berapa banyak SK PNS
kami yang dijadikan jaminan untuk berutang? Jumlahnya sangat banyak ribuan!

Itu semua karena ketidakmampuan kami untuk memenuhi kebutuhan kami secara
tunai. Jangan tanya bagaimana nasib teman-teman kami yang belum diangkat
sebagai PNS. Ada teman-teman kami yang sebulan mendapat gaji tidak lebih dari
seratus ribuan, lebih rendah dari gaji kuli sekalipun.

Bukan sombong kalau kami merasa lebih baik daripada saudara-saudara kami yang
bekerja sebagai buruh pabrik, kuli, atau pegawai serabutan lainnya.

Hal itu jelas dari tingkat pendidikan yang rata-rata sudah sarjana, paling
tidak diploma dengan Akta IV atau minimal lulusan SMA. Akan tetapi,
rasa-rasanya, kehidupan kami tidak jauh berbeda dengan mereka.

Pikiran kami seperti kaum intelek, tetapi kerja kayak kuli. Sama-sama susah.
Hal ini malah lebih memilukan kami.

Hari-hari ini kami dengar katanya pemerintah akan mengeluarkan UU Guru yang
akan memberi sedikit pencerahan kepada nasib kami. Melalui UU itu nasib guru
akan dilindungi, akan lebih diperhatikan, walau tentu tidak akan seperti
teman-teman kami yang berbeda profesi.

Ditegur Wapres

Beberapa hari yang lalu, ketika Wapres bertemu dengan kami dalam peringatan
Hari Guru se-Indonesia di Solo, kami ditegur karena membacakan puisi.
Kalau dengan berpuisi ditegur, harus dengan apalagi menyampaikan aspirasi
kami. Berkaitan dengan bangunan sekolah seperti kandang ayam, kalian tahu
sendiri banyak sekolah yang bahkan bangunannya hampir runtuh, banyak sekolah
yang beratapkan langit dan beralaskan tanah.

Hari-hari ini terasa panjang dan melelahkan. Itu memang karena penantian
kami yang cukup lama dan sekarang menunggu realisasi janji pemerintah
berkaitan dengan pengesahan RUU Guru (dan Dosen).

Seperti halnya saudara-saudara kami kaum buruh yang sering berdemo menuntut
perbaikan nasib, menuntut kenaikan gaji, teman-teman kami pun banyak yang
sudah mulai kehilangan kesabarannya, mulai mengadakan demo dan aksi-aksi
lainnya. Semoga itu tidak terjadi dan dengan cepat dicermati oleh pemerintah.

Semoga saja surat ini tidak saja terbaca oleh kalian, murid-muridku, tapi
juga terbaca oleh pemerintah. Kalau tidak, tolong sampaikan olehmu.

Kalau dengan surat ini pun kami ditegur, harus dengan cara apalagi kami
sampaikan harapan kami. Ini adalah surat cinta di tengah impitan penderitaan
kami.

Satu waktu nanti kalian akan jadi pengganti kami, akan jadi dokter, insinyur,
ahli hukum, ekonomi, atau pejabat pemerintah, menteri, bahkan presiden
sekalipun. Ingat pesan kami, bekerjalah profesional, disiplin, dan jujur.
Jangan hancurkan negara ini dengan ketamakan, mementingkan diri sendiri atau
partai kalian. Perhatikan rakyat kecil, dengarkan jerit tangis mereka. Juga,
jangan lupakan nasib kami: gurumu….

Budiono Guru Sejarah di SMA Negeri 21 Bandung dan SMA Taman Siswa

Categories: Celoteh Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: