Home > Belajar Bisnis, Celoteh > Sejarah Pedagang Uang (Money Changer) : BANK (1)

Sejarah Pedagang Uang (Money Changer) : BANK (1)

Para ekonom senantiasa membohongi publik bahwa resesi dan
depresi adalah bagian alami dari siklus bisnis. Namun
kenyataan yang sebenarnya tidaklah seperti itu. Resesi dan
depresi selalu terjadi bila Bank Sentral memanipulasi jumlah
uang beredar, yang tujuan akhirnya adalah memastikan semakin
banyak kekayaan yang ditransfer dari masyarakat ke tangan
mereka. Bank Sentral sendiri merupakan metamorfasa dari
pedagang uang di zaman dahulu…

48 S.M. : Julius Caesar mengambil kembali hak untuk untuk
membuat koin emas dari tangan pedagang uang di zamannya
untuk kepentingan masyarakat. Dengan suplai uang baru yang
berlimpah, dia memulai banyak proyek konstruksi dan
pekerjaan umum. Dengan jumlah uang yang banyak, Caesar
memenangkan hati dari rakyatnya.

Tetapi para pedagang uang membencinya dan karena itu Caesar
dibunuh. Setelah kematian Caesar, suplai uang berkurang,
pajak naik, demikian juga korupsi.

Pada akhirnya suplai uang di Roma berkurang sampai 90%,
yang menyebabkan rakyat jelata kehilangan tanah dan
rumahnya.

30 : Yesus Kristus untuk pertama kalinya menggunakan
kekerasan untuk mengusir para pedagang uang keluar dari bait
Allah.

Ketika orang Yahudi membayar pajak Ibadah di Yerusalem,
mereka harus membayar dengan koin khusus, setengah shekel
(setengah ounce perak murni) Koin jenis itu adalah
satu-satunya koin perak murni tanpa gambar Raja, karenanya
bagi Yahudi itu adalah satu-satunya koin yang bisa diterima
oleh Tuhan.

Sayangnya koin ini jumlahnya tidak banyak, para pedagang
uang mengumpulkan hampir semuanya, dan harga dari koin ini
menjadi sangat mahal karenanya. Mereka memaksa orang-orang
Yahudi untuk membayar mahal koin ini dan mendapatkan
keuntungan yang besar.

Yesus mengusir para pedagang uang ini karena tindakan
monopoli mereka yang merusak kesucian rumah Allah. Beberapa
hari kemudian, Yesus disalib.

1024 : Para pedagang uang memegang kendali suplai uang di
Inggris dan secara umum disebut sebagai tukang emas. Uang
kertas mulai diedarkan dalam bentuk kwitansi deposit emas
dari masyarakat kepada para tukang emas karena kebanyakan
orang menyimpan emas mereka kepada tukang emas.
Kertas-kertas kwitansi ini pun mulai diperdagangkan dan
digunakan dalam perdagangan sehari-hari karena lebih nyaman
dan mudah dibawa daripada koin emas dan perak.

Lama kelamaan para tukang emas ini memperhatikan bahwa
hanya sebagian kecil dari para deposannya yang akan datang
mengambil kembali emas mereka, dan mereka mulai mengambil
keuntungan dari sistem ini. Mereka mengedarkan lebih banyak
kwitansi daripada emas yang sebenarnya mereka miliki dan
tidak ada orang yang benar-benar menyadari tindakannya. Para
tukang emas meminjamkan emas dalam bentuk kwitansi melebihi
emas yang sebenarnya mereka miliki dan menagih bunga atas
pinjamannya kepada orang-orang.

Ini adalah awal lahirnya sistem yang kita sebut sebagai
Fractional Reserve Banking, sistem di mana para tukang emas
bisa meminjamkan lebih banyak uang daripada yang sebenarnya
mereka miliki. Perlahan-lahan kepercayaan diri mereka terus
bertambah dan akhirnya mereka bahkan bisa meminjamkan 10
kali lipat uang (emas) yang mereka miliki di deposit.

Para tukang emas ini juga menemukan bahwa dengan
mengendalikan suplai uang di sebuah masyarakat, mereka bisa
menciptakan siklus ekonomi dengan mempermudah dan
mempersulit pinjaman secara berkala.

Caranya adalah pada suatu ketika mempermudah pinjaman
kepada orang-orang, menyebabkan jumlah uang beredar
bertambah di masyarakat, kemudian berpindah ke mempersulit
ataupun menghentikan pinjaman kepada orang-orang, mengambil
kembali suplai uang yang beredar dan menyebabkan sebagian
orang kesulitan membayar.

Mengapa mereka melakukan ini? Sederhana saja, akibat dari
siklus ini adalah akan ada sebagian orang yang tidak sanggup
membayar. Karena tidak bisa mendapatkan pinjaman baru,
orang-orang yang tidak sanggup membayar ini akan menyatakan
bangkrut dan dipaksa menjual aset-aset mereka kepada para
tukang emas dengan harga murah.

Sampai saat ini pun kita mengalami siklus ini. Siklus boom
and bust, resesi, depresi, ini hanya kata-kata untuk
membodohi dan menutupi penipuan kejahatan dari para pedagang
uang.

  1. hamba ALLAH
    May 2, 2009 at 12:53 pm

    terima kasih atas informasinya…
    semoga dapat bermanfaat…
    amin…..
    doain nilainya bagus……

    • May 7, 2009 at 9:00 am

      Hello devita?….
      Oh ya, emang sedang ujian?
      Ok semoga sukses yah….n dapat nilai bagus
      Good Luck!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: