Home > 1, Info IT > Pelajaran 3G untuk 4G dan UKM

Pelajaran 3G untuk 4G dan UKM

Khusus untuk Pemerintah/Regulato r dan Operator

Ya akhir2 ini kita memang dilibatkan dengan diskusi hangat mengenai pita lebar, khususnya mau dipakai untuk WiMAX 16d atau 16e kah.

http://telephonyonl ine.com/3g4g/ commentary/ applying- 3g-lte-0105/

Ulasan yang disampaikan dalam URL di atas adalah peringatan mengenai pengalaman telekomunikasi bergerak 3G di negara maju, yang digembar-gemborkan tetapi belum siap sehingga teknologi di bawahnya dipakai sementara pita lebarnya tak sepenuhnya terpakai. Tentunya dengan demikian jaringan tak digunakan optimal, dan investasi
yang ditanamkan tak optimal hasilnya.

Nah, disini diingatkan agar hal tsb tidak terulang dengan implementasi 4G, yaitu WiMAX 16m (bukan 16e) dan LTE.

Bagi Indonesia yang jaringan pita lebarnya untuk 3G saja belum bisa menampung kualitas 3G yang dipersyaratkan (baru setaraf GSM yang 2G), akan menghadapi masalah tambahan dibandingkan negara maju. Dan oleh karena itu cara penyelesaian suatu negara berkembang seperti Indonesia juga harus lebih jeli lagi, dan menjauhi hanya meniru teknologi yang sedang ramai ditawarkan. Sebaiknya kita tidak latah dan terlalu tergiur macam2 fasilitas kenikmatan yang ditawarkan suatu teknologi bisa diterapkan begitu saja.

Sebaiknya kita jangan berilusi untuk 4G bila jaringan dan kualitas untuk 3G belum terjangkau.
Sebaliknya bila jaringan 3G telah menjangkau pelanggan secara nasional dengan skala besar, pada saat 4G diperkenalkan maka pelanggan sudah siap, dan dengan demikian meringankan investasi bagi operator karena
pendapatan dari pelanggan 4G cukup banyak untuk menawarkan akses yang terjangkau.

Bagi Indonesia sebagai negara berkembang yang kualitasnya jaringannya yang baik masih sepotong-sepotong, masih angin-anginan, diperlukan keteguhan hati, persistensi, untuk menjangkau pemerataan jaringan nasional secepatnya. Proyek KPU (Kewajiban Pelayanan Universal) adalah sangat penting agar pelanggan tidak hanya di kota tetapi juga sampai ke desa yang menjadi basis produksi nasional kita. Tetapi itu tidak akan tercapai dengan baik kalau tidak didukung oleh pita lebar yang memungkinkan akses internet yang murah. Dan pita lebar tidak akan bisa masuk desa kalau Indonesia tidak segera menyelesaikan jaringan tulang punggung berkapasitas tak terbatas (ordo
ratusan Gbps hingga Tbps), yang benar-benar merupakan Ring, cincin, dari Barat sampai Timur (dan Timur sampai ke Barat) menjajar pulau-pulau, yaitu Ring Palapa.

Yang perlu dipertimbangkan khususnya oleh regulator dan operator adalah apakah jaringan dan teknologi terkait sudah bisa optimal apa tidak. Bila tidak, maka hanya menimbulkan kerugian dalam investasi bagi operator.
Dan dengan berkembangnya teknologi setiap 3-4 tahun, operator akan keteteran mengikutinya dan harus menysusutkan perangkatnya yang sudah terpasang dengan cepat.

Oleh karena itu wakil operator dalam milis2 harus ikut bicara sehingga pemerintah dan regulator tidak cicing wae (diam saja) mendengarkan masyarakat dan produsen perangkat berdebat dan memberikan iming-iming,
yang tentunya menginginkan barangnya dibeli. Dengan demikian akan ada perimbangan kepentingan dalam masukan ke pemerintah/regulato r. Contoh adalah bahwa walaupun terminalnya murah, belum tentu akan mengarah pada jaringan keseluruhan yang murah (yang akhirnya harus ditanggung pelanggan).

Lebih lanjut para eksekutif operator agar menempatkan kehadiran ke Study Group ITU-T dan ITU-R terkait, sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi perusahaan dalam meraih keunggulan masa depan.

Akhirnya saya menyarankan agar pemerintah/regulato r memberikan perhatian serius kepada UKM-UKM telekomunikasi/ IT kita, yang banyak diantaranya telah terbukti menghasilkan perangkat2 yang canggih dan memiliki nilai tambah tinggi dengan kemampuan R&D yang tidak kepalang dibina dari bawah (from scratch), bukan karbitan!
[Menurut saya hanya UKM-UKM yang bisa melawan kompetisi Cina saat ini
dan masa depan! Mengapa? Mereka lebih luwes, dan cepat dalam
mengadaptasi diri secara ekonomis].
Namun, kalau barang2 mereka tidak segera dibeli akan kehabisan nafas
ditengah jalan (sementara yang di Cina difasilitasi penuh pemerintah).
Yang lebih parah lagi adalah bahwa ahli-ahli peneliti mereka yang ideal
sekalipun, demi Nusa dan Bangsan dsb, tidak akan dapat bertahan terus
(keluarga mereka harus makan) dan akhirnya hijrah ke negara2 tetangga.
Sayang, bukan?!

Bagi UKM-UKM dan juga para operator yang akan membeli hasil IDN para
UKM, sangat penting memperoleh peta teknologi yang ditentukan
pemerintah/regulato r sehingga mereka yakin bahwa pemerintah/regulato r
tidak akan merubah-rubahnya untuk jangka waktu tertentu sampai
produksinya mencapai skala ekonomi.
Bila ini tidak dijamin maka para UKM akan terus berkutat dengan R&D
jangka pendek, yang tentunya nilai tambahnya terbatas, dan tidak akan
menjadi skala ekonomi, oleh karena para operator tidak yakin akan niat
pemerintah sehingga tidak akan membelinya.
Jadi memang diperlukan sinergi antara pemerintah/regulato r, IDN
khususnya UKM-UKM (sinergi antara para UKM sehingga ada pembagian
sasaran), dan operator.

Dukungan untuk UKM ini memang tidak bisa oleh satu Departemen, melainkan
memperoleh dukungan dari seluruh Kabinet, namun inisiatif bisa dimulai
dari Departemen mana saja, termasuk MenKominfo dan atau Menteri UKM,
Industri, BPPT, dsb.

Salam, APhD

Categories: 1, Info IT Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: