Home > 1 > Lemahnya Eksekusi, Biang Kerok Kegagalan Bisnis

Lemahnya Eksekusi, Biang Kerok Kegagalan Bisnis

(managementfile – Strategic) – Ketidakdisiplinan dalam melakukan eksekusi strategi bisnis ternyata yang menjadi biang kerok kegagalan dalam mencapai sebuah target usaha.

Penulis buku “Execution: The Dicipline of Getting Things Done” asal India, Ram Charan mengatakan, 70 persen penyebab kegagalan strategi yang utama disebabkan oleh lemahnya eksekusi.

Pernyataan Ram diperkuat oleh Board of Partners Dunamis Organization Services, Agi Rachmat, yang menegaskan bahwa lemahnya eksekusi menjadi tantangan perusahaan atau organisasi saat ini, termasuk di Indonesia.

Ia menyebutkan bahwa hampir semua bagian dalam sebuah perusahaan atau organisasi mampu membuat strategi yang, menurut dia, “sophisticated” untuk mencapai tujuan. Namun hasil akhirnya sering mengalami kegagalan.

Jelas jika berdasarkan pada analisa FranklinCovey, organisasi jasa pelatihan pengembangan kepemimpinan asal Amerika Serikat (AS), kegagalan mencapai target bukan karena salah strategi maupun perencanaan tetapi karena ketidakdisiplinan dalam mengeksekusi hal-hal yang telah ditetapkan sejak awal.

Untuk menghilangkan kebingungan mengenai apakah eksekusi itu, Agi menjelaskan bahwa eksekusi merupakan disiplin dalam mencapai hal yang dianggap penting.

Dalam sebuah perusahaan atau organisasi, seorang eksekutor lah yang berkewajiban mengawal strategi yang dibuat untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

“Artinya seorang pemimpin yang ingin target perusahaannya tercapai harus menjadi eksekutor yang mau `mengawal` strategi yang telah dibuat dan memastikan berhasil,” ujar Agi.

Karena itu, lanjut dia, seorang pemimpin tidak hanya hebat dalam membuat strategi tetapi juga wajib mampu melakukan eksekusi.

Beberapa hal yang sering kali menggagalkan eksekusi yakni tidak tahu tujuan yang ingin dicapai, tidak tahu bagaimana mencapai tujuan, tidak memiliki ukuran yang memantau progres pencapaian, dan tidak saling bertangung jawab.

Transparan pada karyawan

Peneliti dan pengajar di University of West Indies, Carribean, yang juga menjadi Eksekutif Direktur Pusat Penelitian Tingkat Lanjut FranklinCovey, Dean Collinwood mengatakan sering kali seorang karyawan tidak mengetahui apa yang hendak dicapai sebuah perusahaan.

“Coba tanyakan pada `office boy` soal target perusahaan kita tahun ini, coba tanyakan tukang kebun target kita tahun ini, pasti mereka tidak tahu,” ujar Collinwood.

Padahal untuk mencapai sebuah target semua karyawan harus mengetahui apa target kongkrit yang ingin dicapai, ucap dia.

“Bukan pimpinan yang akan mencapai target itu, tapi karyawan yang akan membantu dia mencapai target itu. Jadi karyawan perlu tahu berapa profit yang ingin dikejar perusahaan tahun ini,” tegas Collinwood.

Berkaca pada pengalaman sebuah BUMN tambang batubara Meksiko yang produksinya mencukupi 10 persen kebutuhan batubara di dalam negeri. Ia mengatakan di saat kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik meningkat, produksi BUMN tersebut justru turun drastis.

Collinwood menegaskan tidak ada transparansi dari perusahaan kepada karyawannya tentang target yang ingin dicapai, dan lebih parah lagi tidak ada transparansi tentang kondisi perusahaan saat itu.

“Sampai akhirnya manajemen membiarkan karyawan mengetahui kondisi perusahaan, dan mengetahui target perusahaan. Mereka (manajemen) menempelkan hasil capaian produksi perusahaan di dinding sebelum masuk ke dalam tambang, dan ini membangun motivasi pekerjanya,” ujar Collinwood.

Transparansi tersebut, menurut dia, tidak saja menular pada karyawan tetapi juga keluarga karyawan. Sehingga keluarga karyawan terbiasa membuat perencanaan, target, dan mengeksekusinya sendiri

“Hasilnya BUMN tambang batubara ini berhasil menaikan produksinya tiga kali lipat,” ujar dia.

Collinwood mengatakan pimpinan tertinggi BUMN itu turun tangan langsung memberikan pelatihan kepada karyawannya tentang cara melakukan eksekusi strategi target perusahaan.

“Bagi pimpinan memberikan pelatihan langsung ke karyawannya merupakan bentuk eksekusi strategi,” ujar dia.

Pahami inti bisnis

Menjalankan bisnis dengan sepenuh hati menurut Agi Rachmat merupakan hal paling penting. Dan jika kegagalan eksekusi berulang kali terjadi, Agi mengatakan sebuah pertanyaan perlu dilontarkan pada seorang pemimpin. “Pahamkah anda akan bisnis anda sendiri?”

Pertanyaan tersebut, menurut Agi, perlu dijawab oleh seorang pemimpin.

FranklinCovey yang telah mengembangkan pengukuran untuk mengukur seberapa baik suatu organisasi dan unit kerjanya dalam menyelesaikan atau mengeksekusi tujuan dan sasaran pentingnya dengan sukses melalui angka “execution quotient” (xQ).

FranklinCovey juga menetapkan angka indikator nol (buruk sekali), 1-40 (tidak bagus), 41-74 (sedang/medioker) , 75-99 (bagus), 100 (sempurna).

Dari ratusan perusahaan yang disurvei, Agi mengatakan 10 perusahaan dengan nilai tertinggi mendapat nilai indikator 78, yang berarti bagus.

Namun, berdasarkan suvei FranklinCovey di berbagai benua, nilai tertinggi 10 perusahaan tersebut belum mampu menyaingi perusahaan-perusaha an multinasional yang kini mampu “mengglobal”.

Survei di Asia Pasifik diperoleh nilai indikator tertinggi 84, di Amerika Serikat diperoleh angka tertinggi 85, sedangkan rata-rata global diperoleh angka 81.

Untuk itu, menurut Dean Collinwood, jika ingin menjadikan “great” perusahaan, dimana memperhatikan performa bukan sekedar profit, mendambakan loyalitas konsumen bukan sekedar kepuasan, menginginkan karyawan mencurahkan hati dan pikiran untuk perusahaan bukan sekedar keberadaan fisik di kantor, dan komitmen memberikan hal berharga untuk Indonesia bukan sekedar bisnis belaka, maka eksekusi strategi atau perencanaan menjadi hal yang wajib dijalankan.

Sumber : www.managementfile. com

Categories: 1 Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: